Haryanto Syafri: Dedikasi tanpa Henti Sang Kapten Hulu Migas Kalimantan-Sulawesi

  • 11 Sep 2026 07:33 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Samarinda - Perjalanan karier Haryanto Syafri di dunia hulu minyak dan gas bumi (migas) ibarat sebuah lingkaran utuh. Berawal dari rasa takjub seorang anak kecil di Pekanbaru pada era 1970-an saat melihat deretan truk dan rig pemboran, pria kelahiran 10 Januari 1972 ini kini bersiap menutup babak pengabdian resminya di tanah Kalimantan dan Sulawesi.

Di tengah persiapan menuju masa purna tugas, veteran industri migas yang telah melintasi berbagai wilayah operasional Indonesia sejak era 1990-an ini memilih tidak mengendurkan gas.

Para pertengahan Mei 2026, Haryanto Syafri resmi menjabat sebagai Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Wilayah Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul). Namun Haryanto tidak menganggap amanah baru ini sekadar rutinitas birokrasi biasa.

Bagi Haryanto, bumi Kalsul adalah pelabuhan terakhir sekaligus arena transfer pengetahuan dan pengabdian tanpa batas. Momen penutup kariernya ini justru ia manfaatkan untuk merangkul para praktisi muda, mengedukasi masyarakat, serta meluruskan berbagai persepsi publik terkait dinamika energi nasional.

"Ini adalah kantor perwakilan terakhir yang saya kunjungi menuju pensiun. Ibarat pertandingan bola, waktunya sudah mendekati injury time," ujar Haryanto saat berbincang hangat dengan awak media di Samarinda, Kamis 10 September 2026.

"Di sisa waktu ini, saya mendedikasikan diri untuk berbuat lebih banyak. Saya mencari adik-adik dan kawan-kawan yang mau berdiskusi, mari kita 'kulitik' satu per satu tantangan yang ada agar menjadi lebih baik," katanya.

Dari Pertanyaan Anak Kecil Hingga "Kegagalan" yang Menyelamatkan

Keterikatan Haryanto dengan dunia minyak dan gas bumi (migas) bukanlah hal yang instan. Tumbuh besar di Pekanbaru, kota yang atmosfer industri migasnya mirip dengan Balikpapan dan Samarinda, membuat Haryanto kecil terpukau melihat lalu lalang kendaraan operasional perusahaan migas besar di tanah kelahirannya.

"Waktu kecil saya heran, kenapa kampung halaman saya dibor sedemikian banyak? Lalu saya melihat mobil-mobil operasional yang melintas, rasanya keren sekali. Jadi saya sangat termotivasi untuk mendalami dunia ini," ucapnya mengenang awal mimpinya menjadi salah satu kapten migas di tanah air.

Rasa penasaran itu membawanya ke jenjang pendidikan yang sesuai. Ia berhasil menembus jurusan Teknik Perminyakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, jalan hidup tak selalu mulus. Setelah lulus dari ITB, ia justru gagal diterima di Caltex, perusahaan impian di tanah kelahirannya sendiri.

“Padahal saya putra daerah di situ. Waktu itu saya merasa ini cobaan besar. Saya tidak cukup pintar untuk bekerja di sini. Tapi ternyata itu bukan gagal, melainkan Tuhan punya tempat yang lebih baik,” katanya sembari tersenyum.

Kegagalan itu membukakan pintu ke ConocoPhillips (Asamera). Selama 10 tahun di sana, Haryanto ditempa di lapangan operasional yang kompleks. Mulai dari pemboran, produksi, hingga perawatan di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan.

Demi mengejar cita-cita mewujudkan pengabdian yang lebih luas di berbagai daerah Indonesia, ia mengambil keputusan berani. Pensiun muda.

“Setelah 10 tahun saya bekerja di area operasi di KKKS, saya mendapat kesempatan untuk mengambil golden handshake namanya. Kalau sekarang istilahnya pensiun muda,” ujar pria dengan dua anak itu.

Langkah Haryanto pensiun itu ternyata hanya sementara. Ia lantas melamar di Badan Pengelola Migas pada 2008 dan langsung diterima. Keputusan itu bukan sekadar perpindahan pekerjaan. Haryanto melihatnya sebagai kesempatan untuk kembali mendekati impian masa kecilnya.

Menjelajah Nusantara dan Seni Memahami "Drama"

Haryanto sempat berpindah-pindah kantor perwakilan sejak 2010 ke lima kantor perwakilan utama di Indonesia. Mulai dari Sumatera Bagian Utara, Sumatera Bagian Selatan, Papua dan Maluku, hingga kini berlabuh di Kalimantan dan Sulawesi.

“Sejak 2010 saya sudah dipercaya jadi kepala perwakilan,” ucapnya dengan raut bangga. “Setelah itu ternyata manajemen berpendapat lain, Haryanto harus segera kembali ke Jakarta karena sudah cukup pembekalan di daerah.

Setelah kembali ke Jakarta, Haryanto mulai menyadari pentingnya mengasah kemampuan komunikasi. Sebab bagi Haryanto, menjadi ahli engineering saja tidak cukup. Ia juga mengasah seni komunikasi untuk merangkul pemangku kepentingan lokal, pemerintah daerah, dan media massa.

Pengalaman panjang di berbagai daerah mengajarkannya cara mengelola "drama", istilah gurauannya untuk menggambarkan rumitnya dinamika sosial dan benturan kepentingan di sekitar wilayah eksplorasi migas.

"Seringkali muncul dinamika seolah-olah industri migas ini asing atau merusak. Padahal, sejak balita kita hidup tak lepas dari produk turunan migas, mulai dari bahan bakar hingga tekstil pakaian kita," katanya. "Tugas kita bersama adalah mengarahkan narasi positif. Karena industri ini bekerja bukan cuma untuk hari ini, tapi untuk generasi anak cucu kita 20–30 tahun mendatang," ujar pria yang suka olahraga jogging itu.

Ia menggambarkan filosofi kerja industri migas seperti menanam pohon durian. Tanam hari ini untuk panen puluhan tahun ke depan.

"Produksi migas yang kita nikmati hari ini adalah buah dari kerja keras para senior kita 20 atau 50 tahun lalu. Seperti peresmian ladang baru di Penajam kemarin, saya hanya bertugas mengunting pita. Proyeknya sudah dimulai sejak 20 tahun lalu. Tugas kita sekarang adalah membuka lahan dan menanam pohon agar anak cucu kita yang memanennya kelak,” katanya.

Kejujuran, Keluarga, dan Ruang-Ruang Diskusi Kecil

Haryanto Syafri (54) berbincang dengan awak media di sela-sela Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Kerjasama SKK Migas Kalsul, PWI Kaltim dan RRI Samarinda di Kantor Perpusatakaan dan Arsip Provinsi Kaltim, Kota Samarinda, Kamis 10 September 2026. Foto: RRI Samarinda/Andreas Trisno.

Di balik sosok kepemimpinannya yang tegas dan adaptif, Haryanto adalah seorang kepala keluarga yang hangat. Pertemuannya dengan sang istri saat masih bertugas di ConocoPhillips kini telah dikaruniai dua orang putri. Putri pertama telah merambah dunia kerja dan si bungsu tengah menempuh pendidikan tinggi. Di sela kesibukannya, ia yang dulu gemar berlari kini lebih memilih jalan santai untuk menjaga kebugaran.

Salah satu cobaan terberat adalah melewati masa kuratif kesehatan yang memaksanya beristirahat di rumah. Namun itu tak pernah memadamkan semangatnya. Justru dari masa-masa sulit itu, Haryanto berhasil melahirkan karya berupa buku panduan prosedur kerja untuk kantor perwakilan SKK Migas.

“Walau dirumahkan, alhamdulillah saya bisa menulis buku. Jadi dari buku itu, kita siapkan prosedur kerja dan disetujui oleh pimpinan,” ujarnya.

Prinsip Hidup: Jangan Takut Sampaikan Kebenaran

Haryanto bilang, prinsip hidup yang memandunya hingga hari ini sangat sederhana namun penuh integritas: selalu berani menyuarakan kebenaran, meski tak selalu mudah.

"Saya harus menyampaikan mana yang benar dan kurang tepat, walaupun kadang jujur itu menjadi hambatan bagi perjalanan karir saya. Tapi kalau saya tidak menyampaikan kebenaran, saya merasa bersalah," katanya tegas.

Kini saat menatap masa pensiun yang kian dekat, Haryanto tak berniat untuk benar-benar berhenti beraktivitas. Ia memilih jalur edukasi, terutama melalui diskusi-diskusi di ruang kecil yang lebih intim dan berdampak.

"Diskusi dalam ruang kecil seperti ini jauh lebih fokus dan menghasilkan banyak hal daripada forum besar yang riuh dengan tepuk tangan tapi cepat dilupakan. Pengalaman dan jam terbang itu tidak tergantikan. Dan membagikannya adalah sedekah terbaik yang bisa saya berikan," pungkas Haryanto ramah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....