Eksistensi Pijat Tradisional di Kubar di tengah Modernisasi
- 24 Mar 2026 15:13 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Di tengah perkembangan layanan kesehatan modern, keberadaan tukang urut tradisional masih tetap bertahan. Salah satunya adalah Kanisius, warga Kampung Melapeh Lama, Kecamatan Linggang Bigung, yang telah menekuni profesi sebagai tukang urut sejak tahun 1996.
Selama puluhan tahun menjalani profesinya, Kanisius telah menangani berbagai pasien dari beragam usia.
“Pengalaman urut dari anak balita sampai dewasa, bahkan pernah sampai usia 80 tahun,” ujar Kanisius, Selasa 24 Maret 2026.
Ia menjelaskan, untuk pasien lanjut usia, proses penyembuhan biasanya membutuhkan waktu lebih lama.
“Kalau usia 80 tahun, prosesnya bisa sampai tiga bulan,” ucapnya.
Meski demikian, ia tetap berupaya memberikan penanganan terbaik sesuai kondisi pasien. Dalam kesehariannya, Kanisius mengaku hampir setiap hari menangani pasien dengan berbagai keluhan, terutama yang berkaitan dengan tulang.
“Kebanyakan pasien datang itu patah tulang, keseleo, bahkan karena salah tidur,” katanya.
Ia menyebutkan, berbagai jenis keluhan dapat ditangani melalui pijat tradisional yang ia lakukan.
“Bisa diurut patah tulang, hernia, keseleo, perut turun, saraf kejepit, sampai saraf refleksi,” ujarnya.
Menurutnya, metode pijat tradisional yang ia gunakan berbeda dengan terapi modern.
“Kalau tradisional, saya amati dulu penyakitnya baru ditangani. Beda dengan terapis modern yang biasanya langsung tindakan,” ucapnya.
Ia menegaskan, penanganan pasien tetap disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan.
“Kalau saya tidak bisa tangani, saya anjurkan ke tenaga kesehatan,” katanya, memastikan pasien tetap mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Kanisius menjadi salah satu contoh pelaku pijat tradisional yang tetap eksis dan dipercaya masyarakat dalam membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....