Forum CSR Kubar: Fasilitasi UMKM Lokal Daripada Sawit-Tambang

  • 21 Jan 2026 10:24 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Ketua Forum CSR Kutai Barat (Kubar), Paulus Kadok, meminta Pemerintah Kabupaten Kubar untuk berhenti terjebak dalam wacana pengembangan komoditas baru yang memerlukan investasi besar, seperti sawit dan pertambangan. Ia mendesak pemerintah agar lebih fokus memberikan fasilitas nyata bagi pelaku UMKM lokal guna mengelola potensi sumber daya alam (SDA) yang sudah ada di depan mata.

"Daripada terus berwacana tentang komoditas baru yang butuh investasi raksasa, lebih baik fasilitasi UMKM kita untuk mengelola potensi yang secara nyata sudah ada. Contohnya sektor perikanan dan gula aren, itu potensinya melimpah dan bisa langsung dikelola masyarakat," kata Paulus Kadok dalam forum diskusi RKPD Kubar di Sendawar, Senin, 19 Januari 2026.

BACA JUGA:

Kurangi Ketergantungan Tambang, Wabup Kubar Dorong Kembangkan Sektor Pertanian

Paulus menilai, kunci utama kenaikan ekonomi di Kutai Barat adalah keterlibatan masyarakat luas dalam rantai produksi. Ia merujuk pada sektor perikanan di wilayah seperti Muara Beloan, Jempang, Melak dan Kelumpang yang memiliki potensi raksasa namun masih memerlukan sentuhan hilirisasi oleh pengusaha lokal agar memiliki nilai tambah.

Menurutnya, model ekonomi yang melibatkan banyak orang akan jauh lebih efektif dalam menekan angka kemiskinan yang saat ini masih berada di angka 8,7 persen. "Semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam satu sektor, semakin cepat ekonomi kita merangkak naik. Jika sektor perikanan dan gula aren dikelola UKM lokal secara masif, nelayan dan petani akan langsung merasakan dampaknya," ujarnya.

Paulus juga mengingatkan, penguatan UKM lokal adalah benteng pertahanan ekonomi terbaik dalam menghadapi ketidakpastian sektor pertambangan yang sewaktu-waktu bisa habis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kutai Barat, sektor tambang masih mendominasi PDRB hingga 43,84 persen, sehingga transformasi menuju ekonomi berbasis kerakyatan menjadi harga mati.

BACA JUGA:

Pertumbuhan Ekonomi Kutai Barat Dinilai Belum Inklusif dan Berkelanjutan

Selain produk fisik, sektor pariwisata juga menjadi sorotan. Paulus mempertanyakan mengapa melimpahnya objek wisata di Kubar belum menjadi sumber pendapatan signifikan bagi warga sekitar. Ia menuntut adanya evaluasi konsep pengembangan wisata agar lebih melibatkan warga lokal dalam ekosistem bisnisnya.

Upaya ini sejalan dengan visi Pemkab Kubar yang mulai mengarahkan sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif sebagai pilar baru ekonomi daerah. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketimpangan ekonomi.

BACA JUGA:

Kadis Pertanian Dorong Warga Kubar Tanam Sawit, Penghasilan Lampaui UMKM

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat menyatakan bahwa fokus pembangunan ke depan memang diarahkan pada stabilitas ekonomi berbasis agroindustri dan penguatan UKM. Sinergi antara Forum CSR, pemerintah, dan pelaku usaha lokal diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang mandiri dan berkelanjutan bagi seluruh warga di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.

Rekomendasi Berita