Pegiat Budaya Fidelis Nyongka Mulai Susun Modul Sekolah Adat di Kubar
- 31 Agt 2026 15:16 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID, Sendawar - Penyusunan modul pembelajaran sekolah adat di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim), mulai dilakukan secara bertahap oleh Pegiat Budaya Kubar, Fidelis Nyongka, setelah proposal yang diajukannya terpilih dalam program Festival Budaya Etam Kaltim.
Program yang berkaitan dengan Kementerian Kebudayaan RI tersebut, menjadi salah satu dari 10 proposal yang terpilih dari 115 proposal yang masuk. Gagasan Fidelis, mengangkat pengembangan sekolah adat yang selama ini telah berjalan di sejumlah komunitas masyarakat adat di Kubar.
Setelah proposal disetujui dan mendapatkan dukungan pendanaan, Fidelis terlebih dahulu melakukan asesmen dan pertemuan dengan komunitas yang memiliki sekolah adat. Kegiatan tersebut dilakukan dengan mendatangi sejumlah kampung selama hampir 10 hari, pada awal Agustus lalu.
Fidelis menjelaskan, asesmen itu menjadi tahap awal untuk melihat kondisi sekolah adat sekaligus menggali kebutuhan dan pengetahuan yang akan menjadi bahan dalam penyusunan modul. Dari proses itu, kemudian dilanjutkan dengan seminar lokakarya yang melibatkan perwakilan sekolah adat dan komunitas.
Lokakarya tersebut baru saja dilaksanakan pada Kamis 27 Agustus 2026, dengan menghadirkan hampir 40 peserta dari lima sekolah adat yang ada di Kubar. Perwakilan komunitas kampung dan pihak sekolah juga dilibatkan dalam pembahasan materi.
Fidelis mengatakan, hasil lokakarya tersebut justru memberikan banyak tambahan informasi yang sebelumnya belum ia perkirakan. Diskusi yang berlangsung dalam kelompok menghasilkan berbagai materi yang nantinya akan memperkaya isi buku modul.
“Terus terang, hasil lokakarya semi-loka itu, melampaui ekspektasi saya, terutama soal isi materinya,” kata Fidelis dikonfirmasi RRI Sendawar, Senin 31 Agustus 2026.
Banyak Materi Didapat Dalam Lokakarya

Dalam lokakarya itu lanjutnya, peserta membahas berbagai pengetahuan yang dinilai penting untuk diajarkan melalui sekolah adat. Materinya antara lain mengenai geografis kampung, sejarah komunitas, kuliner, alat tangkap dan perangkap tradisional, tumbuhan obat, seni budaya hingga Bahasa lokal.
Fidelis menjelaskan, penyusunan modul diperlukan karena selama ini lima sekolah adat yang ada, belum memiliki bahan pembelajaran yang seragam. Masing-masing sekolah menjalankan pembelajaran berdasarkan pengetahuan dan kebutuhan yang dianggap penting oleh komunitasnya.
“Selama ini sekolah adat ini mengajarkan paling tidak apa yang mereka pikirkan hari itu baik, tapi belum seragam lah materi pembelajaran di antara lima sekolah ini," ujarnya.
Sebab itu, modul tersebut nantinya akan menjadi pegangan bagi para pengajar sekolah adat. Materi pembelajaran diharapkan dapat tersusun lebih terarah sehingga terdapat acuan mengenai apa yang dapat diajarkan kepada anak-anak pada waktu tertentu.
“Jadi tujuan pembuatan modul ini, supaya nanti paling tidak ada seragam, misalnya bulan Januari minggu ke-2 itu belajar apa, di sekolah adat A misalnya. Begitu juga sekolah adat lainnya, jadi seragam,” ucap Fidelis.
Setelah lokakarya selesai, program masih menyisakan sejumlah tahapan. Fidelis menyebut pihaknya akan menyelesaikan laporan hasil lokakarya, kemudian melanjutkan dengan audiensi kepada pihak terkait dan mencetak buku modul.
“Ya, nanti kita mungkin cetak hanya 20 eksemplar. Sementara untuk guru saja,” kata Fidelis.
Ia menyebut keseluruhan program saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Setelah modul selesai dicetak, hasil program juga akan menjadi bagian dari bahan yang disampaikan kepada pemerintah daerah dan DPRD Kubar, sebagai tindak lanjut dari program tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....