Kementan dan Bapanas Cek Lahan Pertanian di Kubar, Soroti Potensi Belum Optimal

  • 21 Feb 2026 18:00 WIB
  •  Sendawar

RRI.CO.ID, Sendawar – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Nasional yang terdiri dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan peninjauan langsung ke sejumlah sentra pertanian di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Sabtu 21 Februari 2026.

Sejumlah lokasi yang ditinjau antara lain, persawahan Rapak Oros di kecamatan Linggang Bigung, pertanian terpadu jagung-ayam Layung Farm di kecamatan Barong Tongkok hingga gudang bulog di Ngenyan Asa. Langkah ini diambil untuk memetakan potensi produksi lokal guna mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI, Anny Mulyani, mengungkapkan bahwa Kutai Barat memiliki potensi lahan sawah yang cukup luas untuk memenuhi kebutuhan beras mandiri, namun berdasarkan pantauan di lapangan, optimalisasi lahan sawah di wilayah ini dinilai belum maksimal.

Anny menjelaskan bahwa dengan populasi 189 ribu jiwa, Kutai Barat membutuhkan sekitar 20 ribu ton beras per tahun. Sementara produksi beras lokal masih jauh dari kebutuhan ideal.

"Sawah yang kami kunjungi belum optimal dan perlu ditingkatkan. Seluruh kelompok tani di Kutai Barat harus digerakkan agar produksi dan indeks pertanaman meningkat dari satu kali menjadi dua kali tanam demi memenuhi kebutuhan beras lokal," katanya.

Namun, tinjauan tersebut mengungkap sejumlah permasalahan klasik di lapangan. Bambang, selaku PPL Pertanian Kubar, mengungkapkan kendala mengenai data Luas Baku Sawah (LBS) yang tidak sesuai dengan kondisi riil.

"Sebenarnya LBS itu kan lahan yang siap ditanami atau sudah ditanami dalam dua tahun terakhir. Sementara kondisi di Kubar, banyak lahan yang masuk data tetapi di lapangan sudah jadi semak belukar. Itu sebabnya ketika Kementerian memberikan target tinggi berdasarkan LBS, kami agak kesulitan,” ujar Bambang saat berdialog langsung dengan tim satgas di sawah Rapak Oros.

Ia menyebut data LBS Kubar sekitar 2.000 hektare. Tapi setelah disaring lagi, yang benar-benar aktif kemungkinan tidak sampai 1.000 hektare.

Merespons hal tersebut, Anny Mulyani mengingatkan pentingnya validasi data agar tidak membebani kinerja petugas di daerah. "Kalau memang begitu, harus segera dilaporkan. Karena penilaian kita berdasarkan LTT (Luas Tambah Tanam). Kalau targetnya 2.000 hektare tapi yang tercapai hanya 1.000 hektare, berarti hanya 50 persen.

“Itu bisa masuk kategori merah dan akan berpengaruh pada penilaian kinerja PPL. Jadi, harus dilaporkan melalui aplikasi Tunas mengenai berapa luas yang benar-benar fungsional dan berapa yang tidak," ucap Anny kepada Bambang.

Masalah teknis juga ditemukan, yakni karakteristik tanah yang dalam dan berat membuat petani membutuhkan traktor rotari ban dobel daripada hand tractor biasa.

Guna mengatasi kendala tersebut, Kementan menawarkan berbagai program strategis, mulai dari cetak sawah rakyat melalui proses Survey Investigation Design (SID) hingga optimasi lahan rawa dan non-rawa lewat irigasi perpompaan.

Kementan juga siap menyediakan infrastruktur seperti embung dan dam parit untuk mengairi lahan kering, serta memberikan bantuan dolomit sebanyak satu ton per hektare untuk menetralisir keasaman tanah.

“Jadi di Kementan itu ada beberapa program yang pertama adalah program cetak sawah rakyat. Jadi cetak sawah rakyat itu adalah mencetak sawah di lahan-lahan milik masyarakat tetapi itu potensi untuk cetak sawah. Yang kedua adalah optimasi lahan rawa, misalkan lahannya tergenang perlu normalisasi saluran perlu pintu-pintu air itu bisa dari optimasi lahan rawa. Ketiga bisa juga optimasi lahan non-rawak bagi yang non-rawa misalkan ada sawah tada hujan, itu ada irigasi perpompaan namanya, bisa juga dibuatkan embung dan parit tergantung nanti kondisinya seperti apa,” kata Anny memaparkan program prioritas bagi daerah yang bisa diakses masyarakat.

Di sisi lain, Direktur Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menekankan bahwa distribusi tetap menjadi faktor kunci karena mayoritas pangan Kubar saat ini masih dipasok dari Samarinda.

Selain mendorong produksi lokal agar tidak bergantung pada pihak luar, Bapanas juga mendukung kehadiran Gudang Bulog di Kubar untuk menjaga stabilitas harga.

"Ini menurut saya menjadi penting kehadiran bulog di Kutai Barat maupun Kabupaten kota lainnya, agar Pemerintah hadir dengan ketersediaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Termasuk juga dalam waktu singkat, misalnya akan dibangun gudang bulog, memang belum bisa dibangun standar, tapi ada yang namanya gudang filial. Jadi disini bisa dipakai, supaya bulog bisa memasukkan bahan-bahan pangannya di gudang filial di wilayah Kutai Barat ini," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....