Kurangi Ketergantungan Tambang, Wabup Kubar Dorong Kembangkan Sektor Pertanian
- 19 Jan 2026 18:09 WIB
- Sendawar
RRI.CO.ID,Sendawar – Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani mendorong penguatan sektor pertanian dan perkebunan sebagai upaya mengurangi ketergantungan daerah terhadap sektor pertambangan. Hal tersebut disampaikan dalam Forum Diskusi Publik pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kutai Barat Tahun 2027, di aula ATJ Kantor Pemkab Kubar, Senin 19 Januari 2025.
Nanang Adriani menilai, struktur ekonomi Kutai Barat yang masih didominasi sektor pertambangan membuat pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata. Oleh karena itu, transformasi ekonomi dinilai menjadi langkah penting untuk menciptakan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Ketergantungan terhadap tambang harus mulai dikurangi. Kita perlu mendorong sektor lain yang lebih berkelanjutan dan mampu menyerap tenaga kerja, salah satunya sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.
BACA JUGA:
Daerah Perbatasan Kaltim Masuk Prioritas Pembangunan Pemerintah
Ia menjelaskan, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kutai Barat, mulai dari perkebunan sawit, karet, kakao, hingga komoditas pertanian lainnya. Selain menopang perekonomian daerah, sektor ini juga dinilai mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Wakil Bupati menegaskan, perencanaan pembangunan harus disusun secara terarah dan selaras dengan visi-misi kepala daerah, sehingga setiap organisasi perangkat daerah dapat fokus menjalankan program sesuai perannya masing-masing.
Pemkab Kutai Barat berharap, melalui penguatan sektor pertanian dan transformasi ekonomi yang bertahap, ketergantungan terhadap sektor ekstraktif dapat dikurangi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan ekonomi daerah di masa depan.
Struktur Ekonomi Kutai Barat empat tahun terakhir

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), struktur perekonomian Kabupaten Kutai Barat dalam periode 2020–2024 masih didominasi oleh sektor Pertambangan dan Penggalian. Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tercatat sangat besar, yakni 45,68 persen pada 2020, meningkat menjadi 49,15 persen pada 2021, bahkan mencapai puncak 57,88 persen pada 2022. Meski kemudian menurun, sektor ini tetap menjadi penyumbang terbesar dengan 49,28 persen pada 2023 dan 43,84 persen pada 2024.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang terbesar kedua. Kontribusinya relatif stabil di kisaran 12–15 persen, yaitu 14,86 persen pada 2020, 14,97 persen pada 2021, sempat turun menjadi 12,27 persen pada 2022, lalu kembali meningkat menjadi 13,98 persen pada 2023* dan 14,88 persen pada 2024.
Kontribusi Industri Pengolahan masih tergolong rendah dan cenderung stagnan, berada di kisaran 5–6 persen. Pada 2020 sektor ini menyumbang 6,55 persen, turun menjadi 5,25 persen pada 2022, dan kembali naik menjadi 6,38 persen pada 2024. Kondisi ini menunjukkan hilirisasi industri belum berkembang optimal.
Sektor Konstruksi menunjukkan peranan yang cukup signifikan dengan kontribusi 12,14 persen pada 2020, sempat menurun menjadi 9,22 persen pada 2022, lalu meningkat kembali menjadi 12,13 persen pada 2023* dan 13,58 persen pada 2024. Peningkatan ini mengindikasikan aktivitas pembangunan fisik dan infrastruktur yang terus berlangsung.
BACA JUGA:
Wakil Bupati Kutai Barat Peduli Pertanian Masa Depan
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor berkontribusi antara 6–8 persen. Setelah mengalami penurunan hingga 6,11 persen pada 2022, sektor ini kembali meningkat menjadi 7,55 persen pada 2023 dan 8,46 persen pada 2024.
Sektor Transportasi dan Pergudangan menunjukkan tren meningkat secara bertahap dari 1,68 persen pada 2020 menjadi 2,03 persen pada 2024. Sementara itu, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum masih memiliki kontribusi kecil, yakni di bawah 0,5 persen, meskipun mengalami peningkatan dari 0,25 persen pada 2022 menjadi 0,38 persen pada 2024.
Sektor Informasi dan Komunikasi berada pada kisaran 1–1,3 persen, dengan kontribusi 1,23 persen pada 2020 dan meningkat menjadi 1,31 persen pada 2024. Hal ini menunjukkan peran ekonomi digital masih relatif terbatas.
Kontribusi sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, Real Estat, serta Jasa Perusahaan masih sangat kecil, masing-masing di bawah 1 persen sepanjang periode pengamatan.
Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib berkontribusi sekitar 3,5–5 persen, dengan peningkatan signifikan pada 2024* sebesar 5,06 persen.
Sementara itu, sektor Jasa Pendidikan menyumbang sekitar 1,4–1,9 persen, dan Jasa Kesehatan serta Kegiatan Sosial berada di kisaran 0,8–1,1 persen. Sektor Jasa Lainnya juga relatif kecil dengan kontribusi di bawah 0,4 persen.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Kutai Barat masih sangat bergantung pada sektor pertambangan, sementara sektor-sektor produktif lain seperti industri pengolahan, jasa, dan ekonomi berbasis nilai tambah masih memiliki peran yang terbatas. Hal ini memperkuat urgensi transformasi ekonomi menuju struktur yang lebih berimbang dan berkelanjutan.