Wisatawan Eropa Menurun, Indonesia Alihkan Pasar ke Asia dan Australia

  • 30 Mar 2026 11:11 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Perang yang terjadi di Timur Tengah berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Pelaksana Tugas(Plt) Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Event Kementerian Pariwisata RI Vinsensius Jemadu mengatakan, 70 persen wisatawan asing khususnya wisatawan Eropa, yang ke Indonesia umumnya menggunakan jalur penerbangan.

“Saat ini kita sangat terdampak, terganggu oleh tidak terbangnya Etihad (airways), Qatar, Emirates, Saudi Arabian Airlines dan itu berdampak besar terhadap Timur Tengah dan Eropa, yang spending-nya besar,” katanya saat memberikan sambutan Bimtek di Hotel Getz Semarang, Sabtu 28 Maret 2026. Kondisi ini membuat Kementerian Pariwisata RI dalam satu bulan ini, melakukan pergeseran pasar (shifting market).

Vinsensius menerangkan, pihaknya saat ini sedang menarik wisatawan dari kawasan ASEAN, Asia dan Australia. Menurutnya pergeseran pasar ini diharapkan dapat untuk mengisi potensi yang selama ini didapat dari wisatawan Timur Tengah dan Eropa.

“Sudah ratusan penerbangan yang dibatalkan sejak Februari hingga Maret ini,” ujarnya. Ia mengungkapkan, sebagian besar tujuan wisata wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah itu adalah Bali.

Terkait pintu masuk wisatawan asing kata Vinsensius, Indonesia memiliki beberapa pintu masuk, yaitu jalur udara (Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Soekarno Hatta) dan pintu laut di Kepulauan Seribu.

Selain menggaet wisatawan dari Asia dan Australia, pihaknya juga terus membuat program untuk menarik minat wisatawan domestik. Salah satu program unggulan Kementerian Pariwisata RI untuk menarik minat wisatawan adalah Karisma Event Nusantara (KEN).

Karisma Event Nusantara, jelas Vinsensius, adalah event-event daerah yang memiliki nilai dan kualitas yang bagus dan diangkat ke tingkat nasional. Event daerah yang masuk Karisma Event Nusantara ini sudah dikurasi oleh para ahli, baik di bidang finance, analisis dampaknya, hingga kreativitasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI Samuel JD Wattimena mengatakan, kondisi ini harus dijadikan evaluasi oleh pelaku pariwisata termasuk desa wisata, untuk memperbaiki kualitasnya. Ia beralasan, kondisi krisis membuat orang membelanjakan dananya dengan harapan mendapat sesuatu yang lebih dan maksimal, termasuk dalam hal wisata.

“Jadi yang belum berkualitas, mulai untuk mencari tahu. Bagaimana cara untuk meningkatkan kualitasnya,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....