Menjawab Tantangan Hilirisasi Desa melalui Kemandirian Energi

  • 16 Agt 2026 16:01 WIB
  •  Semarang
Kemandirian Energi Melalui Pemanfaatan Sumber Daya Lokal

PERTANIAN dan peternakan merupakan sektor strategis dalam pembangunan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024 menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 40,76 juta tenaga kerja atau 28,18% dari total 144,64 juta pekerja di Indonesia, menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar.

Indonesia juga memiliki beragam komoditas unggulan yang tersebar di berbagai daerah, seperti kopi di Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan; sapi perah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat; serta kakao, kelapa, dan berbagai komoditas pertanian lainnya yang menjadi penggerak ekonomi pedesaan. Salah satu bentuk kelembagaan yang menopang pengelolaan potensi tersebut adalah Kelompok Tani-Ternak (KTT).

Pada tahun 2023, jumlah KTT di Indonesia mencapai 755.542 kelompok. Sayangnya, sebagian besar masih menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah dengan margin keuntungan yang tipis dan posisi tawar yang lemah di hadapan pengepul maupun pasar. Padahal, KTT semestinya tidak hanya menjadi wadah penyaluran bantuan, tetapi juga menjadi pusat hilirisasi dan penciptaan nilai tambah di tingkat desa.

Salah satu wilayah yang memiliki potensi besar adalah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi ini memiliki populasi sapi perah sekitar 102 ribu ekor dan menjadi salah satu sentra produksi susu nasional.

Di sisi lain, Jawa Tengah juga merupakan salah satu sentra produksi kopi nasional dengan produksi sekitar 26 ribu ton per tahun, menempati peringkat kedelapan terbesar di Indonesia. Kabupaten Boyolali menjadi salah satu daerah yang memiliki kedua potensi tersebut sekaligus, yaitu sebagai sentra peternakan sapi perah dan pengembangan kopi rakyat.

Namun, sebagaimana banyak daerah lain di Indonesia, sebagian besar susu masih dijual dalam bentuk susu segar dan kopi dipasarkan sebagai biji kopi hijau, sehingga nilai tambah yang dinikmati masyarakat masih terbatas. Di sinilah letak persoalannya, hilirisasi terlalu sering dibicarakan sebagai agenda industri besar, tetapi jarang diposisikan sebagai strategi penguatan ekonomi desa.

Biogas Sebagai Sumber Energi untuk Kebutuhan Rumah Tangga

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana desa dapat melakukan hilirisasi jika biaya energi masih tinggi dan akses terhadap teknologi pengolahan masih terbatas? Salah satu jawabannya adalah membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Di wilayah sentra peternakan, misalnya, kotoran ternak yang selama ini dipandang sebagai limbah dapat diolah menjadi biogas menggunakan teknologi digester. Energi yang dihasilkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG, mensubstitusi listrik dari PLN, dan juga menekan biaya produksi untuk usaha komoditas lokal.

Dengan demikian, kemandirian energi bukan sekadar solusi teknis, melainkan fondasi bagi hilirisasi dan penguatan ekonomi desa secara keseluruhan. Argumen ini bukan sekadar wacana.

Salah satu buktinya dapat dilihat dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) pada periode 2024–2026 melalui Program Pemberdayaan Wilayah yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program ini dipimpin oleh Prof. Kusmiyati, S.T., M.T., Ph.D., IPM. yang merupakan Kepala Bagian Hilirisasi dan Inovasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UDINUS.

Tim menyasar dua Kelompok Tani-Ternak (KTT) di Desa Banyuanyar, Kabupaten Boyolali, yaitu KTT Sumber Widodo Satu (SW1) yang bergerak di bidang peternakan sapi perah dan KTT Sumber Widodo Dua (SW2) yang merupakan kelompok petani kopi. SW1 beranggotakan 20 peternak sapi perah, sedangkang SW2 terdiri atas 20 petani kopi dengan total luas lahan 7 hektar. Dari keseluruhan lahan tersebut, produksi kopi mencapai sekitar 2 ton per tahun.

Melimpahnya aktivitas peternakan di SW1 menghasilkan limbah kotoran sapi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui program ini, limbah tersebut diolah menjadi biogas menggunakan biodigester dengan total kapasitas 40 m³ yang menerima masukan sekitar 300–400 kg kotoran sapi segar setiap hari.

Hilirisasi Mampu Meningkatkan Daya Saing

Biogas yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung kegiatan produktif, seperti pengolahan susu dan kopi. Sebelum memanfaatkan biogas, setiap rumah tangga rata-rata menghabiskan sekitar empat tabung LPG 3 kg per bulan dengan biaya sekitar Rp100.000.

Setelah beralih ke biogas, kebutuhan LPG turun menjadi sekitar satu tabung per bulan dengan biaya sekitar Rp25.000. Dengan demikian, setiap rumah tangga dapat menghemat sekitar Rp75.000 per bulan atau sekitar Rp900.000 per tahun.

Pemanfaatan biogas oleh sekitar 7–8 rumah tangga menghasilkan penghematan biaya energi sekitar Rp6,3–7,2 juta per tahun. Selain mengurangi ketergantungan terhadap LPG, pemanfaatan biogas juga mendukung kegiatan produktif masyarakat dan menghasilkan residu (slurry) yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Pengisian digester biogas (kiri), penggunaan biogas untuk menggantikan LPG (kanan)

Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada penyediaan energi. Ketersediaan energi dari biogas menjadi penggerak bagi hilirisasi komoditas unggulan desa. Melalui kegiatan pelatihan, pendampingan, dan pengadaan alat produksi, mitra SW1 yang menghasilkan sekitar 550–600 liter susu segar per hari tidak lagi hanya menjual susu dengan harga sekitar Rp8.500 per liter, tetapi mulai mengolahnya menjadi yoghurt dan keju.

Yoghurt dalam kemasan 250 mL dipasarkan dengan harga sekitar Rp12.000 per botol, sedangkan keju kemasan 200 gram mencapai sekitar Rp45.000 per kemasan. Kenaikan omzet dapat mencapai puluhan juta per tahun.

Hal serupa juga terjadi pada mitra SW2. Sebelum adanya pelatihan, pendampingan, dan pengadaan alat produksi pada tahun 2024, kopi basah masih dihargai sekitar Rp10.000–15.000 per kilogram. Setelah melalui proses pengolahan lanjutan, nilai jual meningkat menjadi sekitar Rp60.000–65.000 per kilogram untuk green bean, Rp160.000–180.000 per kilogram untuk roasted coffee, dan Rp200.000–225.000 per kilogram untuk kopi bubuk.

Peningkatan nilai tambah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi mampu meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan demikian, mitra SW1 dan SW2 tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi mulai bertransformasi menjadi produsen produk olahan yang lebih kompetitif.

Untuk memperkuat daya saing tersebut, program ini juga membekali masyarakat dengan pelatihan branding, pengemasan, pemasaran digital, manajemen keuangan, serta ekspor produk. Pelatihan ekspor mencakup pengenalan standar mutu, persyaratan ekspor, penyusunan dokumen, hingga strategi menjangkau pembeli di pasar internasional.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kesiapan untuk memperluas akses pasar hingga ke mancanegara.

Foto bersama setelah pelatihan produksi yoghurt

Pengalaman SW1 dan SW2 menunjukkan sbahwa kemandirian energi dan hilirisasi merupakan dua strategi yang saling melengkapi. Biogas dari limbah peternakan menyediakan energi yang lebih murah dan berkelanjutan; hilirisasi mengubah energi murah itu menjadi nilai ekonomi yang jauh lebih besar.

Ketika keduanya diintegrasikan, terbentuklah ekosistem ekonomi sirkular—limbah diolah menjadi energi, energi menggerakkan produksi, dan hasil produksi dipasarkan sebagai produk bernilai tambah. Ini bukan model yang sulit ditiru, dengan sedikit keberanian kebijakan, model ini bisa direplikasi di ratusan desa lain.

Model pemberdayaan semacam ini semestinya tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Banyak desa di Indonesia memiliki potensi komoditas unggulan serupa, tetapi masih terjebak dalam pola penjualan bahan mentah bermargin tipis—bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena tidak ada yang membukakan jalan energi dan teknologi bagi mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan desa tidak ditentukan oleh besarnya volume produksi komoditas, melainkan oleh kemampuan menciptakan nilai tambah dari apa yang sudah dimiliki. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga pendanaan riset semestinya menjadikan pasangan energi terbarukan dan hilirisasi ini sebagai kerangka baku pemberdayaan desa. Ketika biogas menjadi penggerak energi, hilirisasi meningkatkan kualitas produk, dan masyarakat mampu mengakses pasar ekspor, desa bukan hanya menjadi mandiri energi, tetapi juga semakin mandiri secara ekonomi.

Penulis:

Prof. Kusmiyati, S.T., M.T., Ph.D., IPM.

Peneliti dan Dosen Teknik Industri Universitas Dian Nuswantoro

Kepala Bagian Hilirisasi dan Inovasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....