Bukan Sekadar Representasi, Saatnya Polwan Menjadi Soft Power Polri
- 13 Jul 2026 16:36 WIB
- Semarang
Kehadiran Polwan sering kali memudahkan polisi menjangkau kelompok rentan yang membutuhkan pendekatan berbeda, termasuk perempuan, anak, penyandang disabilitas, maupun masyarakat yang mengalami trauma akibat tindak pidana. Peran tersebut tidak hanya terlihat dalam pelayanan kepada korban kekerasan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga.
Dalam pengamanan penyampaian pendapat di muka umum, misalnya, Polwan juga berperan sebagai negosiator yang menjembatani komunikasi antara aparat dan massa aksi. Ketika dialog berjalan dengan baik, potensi eskalasi konflik dapat ditekan sehingga penggunaan kekuatan menjadi pilihan terakhir, bukan pilihan pertama.
Pentingnya pendekatan tersebut diperkuat oleh teori Procedural Justice yang dikemukakan Tom R. Tyler. Menurut teori ini, masyarakat akan lebih menerima keputusan aparat dan lebih patuh terhadap hukum apabila mereka merasa diperlakukan secara adil, dihormati, diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, serta melihat bahwa keputusan diambil secara netral.
Dengan kata lain, legitimasi kepolisian tidak hanya lahir dari kewenangan yang diberikan oleh undang-undang, tetapi juga dari kualitas interaksi antara polisi dan masyarakat. Dalam perspektif tersebut, kemampuan komunikasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan penegakan hukum.
Polisi yang mampu mendengarkan sebelum bertindak akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat dibandingkan polisi yang hanya mengedepankan kewenangan. Di sinilah kontribusi Polwan menjadi semakin nyata.
Pendekatan yang komunikatif dan empatik bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan bagian dari profesionalisme kepolisian modern yang mampu menghadirkan rasa keadilan bagi masyarakat. Gagasan serupa juga dikemukakan Herman Goldstein melalui teori Problem-Oriented Policing.
Goldstein menegaskan bahwa tugas polisi tidak boleh berhenti pada penanganan peristiwa pidana semata. Polisi harus mampu mengidentifikasi akar penyebab suatu masalah, memahami pola yang melatarbelakanginya, kemudian menyusun strategi penyelesaian yang berorientasi pada pencegahan.
Dengan pendekatan tersebut, kepolisian tidak hanya memadamkan konflik, tetapi juga mengurangi kemungkinan konflik serupa terjadi kembali. Jika dicermati, berbagai tugas yang selama ini dijalankan Polwan sesungguhnya telah mencerminkan pendekatan tersebut.
Ketika seorang Polwan melakukan mediasi terhadap konflik masyarakat, mendampingi korban kekerasan, membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, atau melakukan negosiasi dalam pengamanan unjuk rasa, yang dilakukan bukan sekadar menyelesaikan persoalan sesaat. Polwan sedang membangun fondasi kepercayaan yang menjadi modal utama terciptanya keamanan jangka panjang.
|
Selanjutnya,
Perspektif kebijakan publik
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....