Ironi di Balik Piring Warga, Krisis Pasokan Ikan di Kota Atlas
- 27 Apr 2026 10:55 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID Semarang - Kota Semarang, dengan garis pantai yang membentang di sepanjang Laut Jawa, seharusnya menjadi surga bagi para pecinta kuliner laut. Namun, realitanya justru menunjukkan kontradiksi yang cukup menggelisahkan.
Belakangan ini, sorotan tertuju pada fenomena rendahnya ketersediaan stok ikan segar di pasar-pasar lokal. Hal ini berbanding terbalik dengan antusiasme dan tingginya tingkat konsumsi ikan masyarakat di Ibu Kota Jawa Tengah .
Tingginya angka konsumsi ikan di Semarang sebenarnya sebuah prestasi literasi gizi yang patut diapresiasi. Kampanye "Gemarikan" tampaknya telah meresap kuat ke dalam pola makan warga, yang kini semakin sadar akan keunggulan protein laut dibanding daging.
Sayangnya, lonjakan permintaan ini tidak dibarengi dengan rantai pasok yang mumpuni. Salah satu faktor utama yang mencekik ketersediaan ini adalah kendala ekologis dan teknis yang dihadapi para nelayan lokal.
Perubahan iklim yang tidak menentu serta sedimentasi di kawasan pesisir Semarang membuat hasil tangkapan fluktuatif. Selain itu, ketergantungan pada alat tangkap tradisional membuat nelayan lokal sulit bersaing dengan kapal-kapal besar dari luar daerah yang menyedot potensi laut kita, sehingga distribusi ikan seringkali ke kota lain sebelum sampai ke meja makan warga Semarang.
Kesenjangan antara supply dan demand ini bukan sekadar masalah perut, melainkan juga masalah stabilitas ekonomi mikro. Ketika ikan menjadi barang langka, hukum pasar berlaku: harga melonjak.
Hal ini sangat memukul kelompok masyarakat menengah ke bawah yang mengandalkan ikan sebagai sumber protein terjangkau. Jika dibiarkan, ambisi pemerintah untuk menekan angka stunting melalui konsumsi protein hewani di Ibu Kota Jawa Tengah ini bisa terancam jalan di tempat.
Pemerintah Kota Semarang tidak boleh hanya berpangku tangan melihat ketimpangan ini. Perlu ada intervensi konkret dalam bentuk revitalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan penguatan sistem cold storage.
Tanpa fasilitas penyimpanan yang memadai, ikan yang melimpah saat musim panen akan terbuang sia-sia. Sementara, saat musim paceklik, pasar akan mengalami kekosongan stok.
Selain infrastruktur fisik, penguatan sektor perikanan budidaya di wilayah daratan atau tambak juga bisa menjadi solusi alternatif yang cerdas. Diversifikasi sumber ikan, tidak hanya bergantung pada hasil laut, akan memberikan bantalan bagi ketersediaan pangan kota.
Edukasi bagi para pembudidaya ikan air tawar dan payau perlu ditingkatkan. Dengan demikian, mereka mampu menghasilkan produk yang secara kualitas dan rasa tidak kalah saing dengan ikan tangkapan laut.
Tentu, menjaga konsistensi stok ikan adalah tanggung jawab kolektif. Kita tentu tidak ingin Semarang hanya dikenal dengan sejarah pelabuhannya yang besar, namun warganya kesulitan menikmati hasil lautnya sendiri.
Dibutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah, ketangguhan nelayan, dan efisiensi distributor agar piring warga Semarang tetap berisi ikan segar dengan harga yang masuk akal. Jangan sampai slogan makan ikan itu sehat berubah menjadi makan ikan itu mahal.
(Editorial RRI Semarang/dar)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....