Jadi Pemain Liga 2, Aprianto Bikin Warga Kampung Rajin Nobar Kendal Tornado FC

  • 01 Okt 2026 09:34 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Jalan kampung di Desa Kelanir, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat ditutup setiap kali Kendal Tornado FC bertanding. Bukan karena kegiatan besar atau keadaan darurat, melainkan karena warga ingin menyaksikan pertandingan bersama melalui nonton bareng.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan warga terhadap Kendal Tornado FC, sekaligus kepada Aprianto, pemain asal kampung tersebut yang kini memperkuat Laskar Badai Pantura di Liga 2. Aprianto merupakan satu-satunya pemain yang masih bertahan di Kendal Tornado FC sejak Liga Nusantara 2024/2025 hingga membawa tim promosi ke kasta kedua sepak bola Indonesia.

Ketika tim bertanding, warga kampungnya beramai-ramai berkumpul untuk mengikuti jalannya pertandingan melalui layar yang disiapkan untuk nobar. Aprianto mengatakan, setiap kali Kendal Tornado FC bertanding, dirinya selalu mengabari keluarga agar warga sekitar dapat bersiap menyaksikan pertandingan bersama.

“Jadi setiap Kendal Tornado FC akan bertanding saya kabari keluarga, karena tetangga di kampung sudah nunggu untuk nonton bareng. Saya kirim uang Rp200 ribu untuk beli kopi,” ungkap Aprianto, Rabu, 30 September 2026.

Antusiasme warga bahkan membuat Aprianto pernah mendapat teguran dari tetangganya ketika lupa memberikan kabar mengenai jadwal pertandingan. “Bahkan bapak pernah dimarahi tetangga gara-gara nggak kasih kabar kalau Tornado lagi main, karena mereka mencari hiburan,” ujarnya sembari tertawa.

Menurut Aprianto, dukungan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Pertandingan yang berlangsung jauh dari kampung halaman tetap mampu menghadirkan suasana kebersamaan di tengah warga.

Ia mengatakan, warga merasa bangga karena ada anak kampung yang mampu bermain sepak bola di level nasional. Namun, keterbatasan fasilitas dan jaringan internet menjadi tantangan tersendiri ketika warga ingin menyaksikan pertandingan.

“Jadi mereka senang jika ada anak di kampungnya yang main bola di level nasional. Padahal di sana susah sinyal untuk nobar, jadi harus beli voucher untuk wifi,” katanya.

Aprianto mengakui, sepak bola di kampung halamannya masih kurang mendapat sorotan. Kondisi tersebut turut berdampak pada fasilitas olahraga, termasuk lapangan sepak bola yang belum memenuhi standar.

Saat menjalani latihan di kampung, ia bahkan pernah menggunakan botol bekas atau batok kelapa sebagai pengganti cone. Kondisi itu membuat sejumlah tetangganya terkejut ketika mengetahui Aprianto mampu bermain di kompetisi sepak bola profesional.

“Tetangga juga sempat tanya kok bisa saya bermain di Liga 2, ya maklum orang kampung bisa di posisi sekarang ini. Pastinya mereka dan orang tua juga memberi doa dan nasihat untuk terus belajar dan menjaga diri,” kata mantan pemain Perseden Denpasar dan Pesekap Pekalongan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....