GEKRAFS Salatiga Resmi Dilantik, Bidik Pasar Nasional hingga Internasional

  • 03 Okt 2026 14:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Salatiga - Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kota Salatiga resmi dilantik di Grand Wahid Hotel Salatiga pada Sabtu 3 Oktober 2026. Kepengurusan baru ini didorong memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha kreatif di Kota Salatiga.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GEKRAFS Jawa Tengah Berty Diah Rahmana mengatakan, Salatiga menjadi daerah pertama dalam rangkaian pelantikan kepengurusan GEKRAFS di Jawa Tengah. Salatiga memiliki potensi ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan tidak hanya untuk pasar lokal dan nasional, tetapi juga pasar internasional.

“Memang Salatiga tujuan pertama kita. Kita nginepnya juga di Salatiga. Dari pusat dan berbondong-bondong, sekitar ada 20 orang dari pusat ke sini karena excited ke Salatiga,” katanya.

Berty mengatakan GEKRAFS menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif yang kini mencakup 21 subsektor. Di Jawa Tengah, GEKRAFS telah terbentuk di sejumlah kabupaten dan kota, dengan empat kepengurusan baru yang dilantik, yakni Salatiga, Kabupaten Semarang, Purbalingga, dan Banyumas.

Menurut Berty, potensi ekonomi kreatif Salatiga mulai terlihat dari produk lokal yang telah diperkenalkan ke pasar luar negeri. Bahkan, calon Ketua DPC GEKRAFS Kota Salatiga disebut telah membawa produk ekonomi kreatif daerah tersebut ke luar negeri sebelum kepengurusan resmi dilantik.

“Kemarin mendampingi saya juga kalau di Malaysia. Bulan ini kita ada pelantikan di China, di Hong Kong, jadi memang jaringannya luas,” ujarnya.

Ia berharap pelaku ekonomi kreatif Salatiga tidak hanya mengandalkan pasar lokal. Berty mendorong kepengurusan baru GEKRAFS memanfaatkan jaringan yang tersedia untuk membawa produk Salatiga ke tingkat nasional hingga internasional.

“Jangan disia-siakan. Apa yang ada di Salatiga semoga bisa dieksplor keluar, di nasional maupun di luar negeri, karena memang pintunya terbuka luas,” katanya.

Berty juga membuka peluang kolaborasi antara pelaku ekonomi kreatif Salatiga dengan jejaring GEKRAFS di luar negeri, termasuk melalui konsep sister city. Ia berharap DPC GEKRAFS Salatiga menjadi salah satu kepengurusan yang aktif menggerakkan pelaku ekonomi kreatif di daerah.

“Saya percaya memang Salatiga ini kota anak kreatif,” ujarnya.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GEKRAFS H. Kawendra Lukistian mengatakan Salatiga memiliki modal sosial dan potensi kreatif yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Keberagaman masyarakat Salatiga dinilai menjadi salah satu modal dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.

Kawendra menyebut Salatiga kerap dijuluki sebagai Indonesia mini karena keberagaman masyarakatnya. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat menjadi kekuatan untuk melahirkan berbagai produk dan gagasan kreatif.

“Saat ini banyak sekali potensi yang besar, bahkan banyak yang menjuluki Salatiga ini adalah Indonesia mini, karena di sini dari Sabang sampai Merauke ada,” kata Kawendra.

Ia menilai sumber pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam. Kreativitas dan gagasan manusia juga dapat menjadi sumber ekonomi baru, termasuk melalui pengembangan konsep Salatiga sebagai giant rest area.

“Tadi saya rasa soal menjadi giant rest area itu ide yang luar biasa. Kita tidak harus selalu berlari, butuh olahraga, butuh istirahat sejenak di tempat rest area yang paling nyaman, itu pasti akan dicari,” ujarnya.

Kawendra mengatakan GEKRAFS memiliki jaringan di 38 provinsi, sekitar 300 kabupaten/kota, serta perwakilan di 18 negara. Jaringan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan pelaku ekonomi kreatif Salatiga untuk membuka kerja sama bisnis dan memperluas pasar.

“Artinya apa, peluang kerja samanya ada,” katanya.

Ia mencontohkan kolaborasi GEKRAFS dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Barat yang terlibat memproduksi suvenir dan merchandise untuk penyelenggaraan MotoGP di Mandalika. Kolaborasi tersebut melibatkan jaringan GEKRAFS dari sejumlah daerah, mulai dari dukungan bahan baku hingga permodalan.

Kawendra berharap pola serupa dapat dikembangkan di Salatiga. Dengan demikian, GEKRAFS tidak hanya menjadi wadah komunitas, tetapi juga membuka akses pasar, kerja sama, dan peluang usaha bagi anggotanya.

Ketua GEKRAFS Kota Salatiga Diah Ayu Pitaloka mengatakan ekonomi kreatif tidak selalu membutuhkan modal besar. Banyak ide kreatif justru dapat tumbuh dari lingkungan sekitar dan dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi.

Menurut Diah, anak muda memiliki peluang besar mengubah gagasan menjadi produk bernilai ekonomi. Ide tersebut bisa muncul dari aktivitas sederhana di rumah, seperti membuat produk dari dapur, menghasilkan karya melalui kamera, atau menciptakan sesuatu menggunakan laptop.

“Teknologi itu akhirnya menjadi kekuatan dari masyarakat. Ia ada di sekitar kita dan muncul dari anak-anak yang hari ini mungkin sedang membuat sesuatu dari kamar mereka, dari sebuah laptop, dari sebuah kamera, dari sebuah dapur kecil, atau dari sebuah ide yang belum banyak orang lihat,” kata Diah.

Ia menegaskan GEKRAFS ingin memastikan ide kreatif masyarakat tidak berhenti sebagai gagasan. Karena itu, pengembangan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan dukungan dan kolaborasi pemerintah, komunitas, pelaku usaha, serta berbagai pihak.

“Kami menyadari, tidak mungkin bekerja sendirian. Ekosistem hanya akan tumbuh apabila semua pihak duduk bersama, membuka ruang komunikasi, dan berjalan bersama,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....