Musim Hujan Jateng Diprediksi Mundur Sebulan, BMKG Ingatkan Bahaya Hujan Tipuan

  • 02 Okt 2026 10:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Musim hujan di Jawa Tengah diprediksi datang lebih lambat pada tahun ini. Di sejumlah wilayah, awal musim hujan bahkan diperkirakan mundur hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan dibandingkan kondisi normal.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan keterlambatan tersebut dipengaruhi kondisi iklim global, salah satunya fenomena El Nino. Dampaknya masih terasa hingga tahun 2026 meski intensitasnya telah melemah dibandingkan periode sebelumnya.

“Karena kemarau tahun 2026 ini ada fenomena global yang mempengaruhi. Salah satunya adalah El Nino,” kata Goeroeh, Kamis, 1 Oktober 2026.

Akibat kondisi tersebut, awal musim hujan tidak akan datang secara bersamaan di seluruh Jawa Tengah. Sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November, sementara daerah lain baru mengalaminya pada akhir November hingga pertengahan Desember.

Wilayah Banjarnegara dan Wonosobo diprediksi menjadi daerah yang lebih dahulu memasuki musim hujan. Sebaliknya, Rembang, Pati bagian utara, Jepara, hingga Wonogiri bagian selatan diperkirakan mengalami keterlambatan yang lebih panjang.

“Jadi meskipun Jawa Tengah itu satu wilayah, ada variasi. Datangnya awal musim hujan berbeda-beda,” ujarnya.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap satu kali hujan sebagai tanda musim hujan telah tiba. Pada masa peralihan musim, hujan masih dapat turun secara sporadis sebelum memasuki pola hujan yang lebih konsisten.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi petani, terutama yang mengandalkan lahan tadah hujan. Mereka diminta tidak terburu-buru memulai tanam hanya karena hujan turun setelah kemarau panjang.

“Di dalam bahasa publik itu ada hujan tipuan. Dalam bahasa Jawa, hujan salah mangsa,” ungkap Goeroeh.

Khusus petani tadah hujan, informasi awal musim hujan menjadi faktor penting dalam menentukan waktu penyemaian dan penanaman agar ttidak terdampak hujan sementara yang belum menandai datangnya musim hujan secara penuh. “Kalau ada irigasi teknis, ada air, mungkin sudah bisa melakukan, tapi yang kami sampaikan ini adalah petani-petani yang menggunakan air dengan tadah hujan,” ujarnya.

Goeroeh menegaskan keterlambatan awal musim hujan tidak berarti durasi musim hujan akan lebih panjang. Secara umum, musim hujan tahun ini diperkirakan tetap berada pada kategori normal meski kedatangannya mundur.

Adapun, sebagian daerah akan mencapai puncak curah hujan pada Januari, sementara wilayah lain baru mengalaminya pada Februari hingga Maret. Perbedaan tersebut perlu diantisipasi karena peningkatan curah hujan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi mulai dari banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....