Peserta MTQ Asal Bengkulu Soroti Budaya Lalu Lintas dan Keramahan Warga Semarang
- 19 Sep 2026 22:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-31 Tahun 2026 di Jawa Tengah menjadi pengalaman berkesan bagi dua peserta asal Provinsi Bengkulu, El Fahri Pradipta dan Nur Rinal Haqiqi. Keduanya datang sebagai bagian dari kafilah Bengkulu, El Fahri mengikuti cabang Syarhil Quran, sedangkan Nur Rinal tampil di cabang Fahmil Quran.
Bagi keduanya, kesempatan tampil di ajang tingkat nasional menjadi kebanggaan tersendiri karena dapat membawa nama Provinsi Bengkulu. “Untuk pesan dan kesan kami mengikuti MTQ ini, yang pertama kami merasa bangga karena bisa berdiri di panggung nasional dan mewakili serta mengharumkan nama Provinsi Bengkulu,” kata El Fahri pada Sabtu 19 september 2026.
Senada, Nur Rinal mengaku senang bisa menjadi bagian dari kafilah Bengkulu. Ia juga berharap dapat kembali meraih prestasi pada ajang MTQ berikutnya.
“Saya cukup senang bisa berdiri di sini sebagai perwakilan dari Provinsi Bengkulu. Karena Fahmil sudah diketahui juaranya dan saya belum dapat, semoga ke depannya dapat lagi,” ujarnya.
Selama berada di Kota Semarang, El Fahri dan Nur Rinal tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga mengamati berbagai kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan daerah asal mereka. Menurut El Fahri, salah satu hal yang menarik perhatian adalah budaya berlalu lintas di Semarang. I
Ia melihat pengendara cenderung tidak banyak membunyikan klakson meski kondisi jalan sedang padat. El Fahri membandingkan kondisi tersebut dengan Bengkulu, dimana ketika terjadi kemacetan di Bengkulu, pengendara lebih sering membunyikan klakson.
“Kalau di Bengkulu itu kalau macet banyak yang membunyikan klakson. Tetapi di Semarang, walaupun padat, tidak membunyikan klakson,” ujarnya.
Soal makanan, kedua peserta mengaku menikmati kuliner khas Semarang. Namun, mereka membutuhkan sedikit adaptasi karena cita rasa makanan di Jawa berbeda dengan makanan yang biasa mereka santap di Bengkulu.
“Enak, tetapi sepertinya karena lidahnya berbeda, kami belum terbiasa. Kalau biasanya kami di Sumatera itu sambalnya pedas-pedas. Kalau di Jawa mungkin cenderung manis,” kata El Fahri.
Beberapa kuliner khas Semarang yang sudah mereka coba atau beli antara lain wingko babat dan bandeng presto. Mereka juga berencana mencicipi lebih banyak kuliner khas Semarang selama masih berada di Kota Atlas, termasuk lumpia.
Di tengah perbedaan budaya dan kebiasaan, keramahan masyarakat Kota Semarang justru menjadi salah satu kesan positif yang paling dirasakan keduanya.
El Fahri mengapresiasi sikap masyarakat yang dinilainya ramah dan terbuka terhadap para peserta MTQ yang datang dari berbagai daerah.
“Jujur, sangat mengapresiasi masyarakat Kota Semarang karena yang pertama ramah dan sangat merangkul kami yang dari luar kota. Tidak judes, intinya,” ujarnya.
Sementara untuk cuaca, keduanya mengaku perlu beradaptasi. Kondisi Semarang yang sedang memasuki musim kemarau terasa cukup panas bagi mereka, terutama ketika harus berjalan kaki.
“Lumayan panas, sangat menyengat. Untuk kami yang mungkin tidak terlalu panas seperti di Bengkulu, di sini sedikit kesusahan kalau berjalan kaki,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....