Cuaca Terik, Keuntungan Sekaligus Beban Bagi Petani Tembakau

  • 19 Sep 2026 12:30 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Cuaca panas terik pada musim panen tahun ini meningkatkan kualitas daun tembakau secara signifikan di Kabupaten Pati.
  • Petani tembakau dihadapkan pada tantangan berat berupa serangan penyakit layu Fusarium dan layu bakteri yang tidak dapat disembuhkan setelah terinfeksi parah dan meluas.
  • Harga pupuk non-subsidi seperti ZK melonjak hingga Rp830 ribu hingga Rp860 ribu per karung, membuat petani terbebani dengan lonjakan biaya operasional produksi yang signifikan.

RRI.CO.ID, Pati - Cuaca panas terik pada musim panen tahun ini meningkatkan kualitas daun tembakau secara signifikan di Kabupaten Pati. Petani tetap menghadapi tantangan berat berupa serangan penyakit tanaman dan lonjakan biaya operasional produksi yang cukup besar.

Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Kecamatan Tambakromo Ahmad Hasan menyoroti ancaman penyakit layu Fusarium dan layu bakteri. Penyakit yang menyerang akar tanaman ini tidak dapat disembuhkan setelah tanaman terlanjur terinfeksi secara parah dan meluas.

"Layu Fusarium dan layu bakteri itu tidak bisa diobati, hanya bisa dicegah sedini mungkin sejak awal pembibitan. Kalau sudah terserang, tidak ada obatnya dan penyakit itu bisa menjalar cepat ke tanaman lain di sekitarnya," ujar Ahmad Hasan.

Ketua kelompok tani Desa Tambaharjo Sarju menyoroti kendala manajemen pengairan pada musim kemarau panjang di Kabupaten Pati. Petani binaan kemitraan pabrikan juga terbebani melambungnya harga pupuk non-subsidi seperti ZK dan KNO di pasaran lokal.

Harga pupuk ZK mencapai Rp830 ribu hingga Rp860 ribu per karung isi lima puluh kilogram saat ini. Harga eceran ZK bahkan menyentuh Rp25 ribu per kilogram bagi petani yang membeli dalam jumlah sangat terbatas.

"Pupuk yang saya beli bukan pupuk bersubsidi, seperti ZK yang harganya cukup mahal dibandingkan pupuk bersubsidi biasa. Phonska dan Urea bersubsidi dari pabrik itu tidak boleh dipakai untuk tanaman tembakau sesuai aturan yang berlaku," ungkap Sarju.

Para petani berharap pemerintah daerah segera turun tangan memantau penetapan harga tembakau dari pabrikan agar tidak merugikan.(agp)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....