Harga Kedelai Impor Naik, Omzet Pedagang Tahu Tempe di Pekalongan Anjlok
- 18 Sep 2026 08:54 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Harga Kedelai Impor Naik, Omzet Pedagang Tahu Tempe di Pekalongan Anjlok
- Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya memantau harga di tingkat pasar, tetapi juga mengambil langkah untuk menjaga stabilitas bahan baku.
RRI.CO.ID, Pekalongan – Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan pedagang tahu dan tempe di wilayah Pekalongan. Dalam sepekan terakhir, harga bahan baku naik dari sekitar Rp10.500 menjadi Rp11.000 per kilogram.
Dampaknya langsung terasa di tingkat pedagang. Di Pasar Grogolan, Kota Pekalongan, Pedagang mengaku omzet penjualan merosot hingga 50 persen akibat kombinasi kenaikan harga bahan baku dan melemahnya daya beli konsumen.
Pedagang tahu dan tempe, Irwan mengatakan, kenaikan harga kedelai membuatnya harus mencari cara agar harga jual produknya tidak ikut melonjak. Salah satu langkah yang dipilih adalah mengurangi ukuran atau takaran tahu dan tempe.
Strategi tersebut dilakukan agar harga tetap terjangkau, meski keuntungan pedagang semakin tertekan.“Menyiasatinya terpaksa dengan mengurangi ukuran supaya dapat untung, tapi tetap kita sampaikan ke pembeli. karena sepekan ini omzetnya berkurang,” ujar Irwan, Jumat, 18 September 2026.
Selain itu, ia menyebut, pembelian tahu yang sebelumnya mencapai sekitar 40 papan kini hanya 22 papan. Sementara produksi tempe turun dari sekitar 50 menjadi 32 potong panjang.
Penurunan penjualan tersebut menunjukkan kenaikan harga bahan baku tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga mulai memukul rantai perdagangan tahu dan tempe hingga ke konsumen.
Menurut Irwan, sebagian konsumen bahkan mulai mempertimbangkan membeli lauk lain, termasuk ayam. Kondisi itu semakin membuat perputaran dagang tahu dan tempe melambat.
Kondisi serupa dialami Ahmad, pedagang tahu di Pasar Bligo, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Kenaikan harga kedelai impor dalam sepekan terakhir membuatnya terpaksa memangkas jumlah produksi.
"Kedelai harganya naik kisaran Rp600 per kilogram, dari Rp10.200 menjadi Rp10.800 ditambah penjualan sepi, kami terpaksa mengurangi produksi tahu, karena sering tidak habis dijual,” kata Ahmad.
Tekanan harga juga dirasakan pedagang gorengan, Syahadi. Ia mengaku kenaikan harga tahu dan tempe ikut menggerus keuntungan usahanya.
Bukan hanya tahu dan tempe, harga minyak serta tepung juga disebut mengalami kenaikan. Akibatnya, biaya produksi pedagang gorengan semakin tinggi sementara kemampuan menaikkan harga jual terbatas.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya memantau harga di tingkat pasar, tetapi juga mengambil langkah untuk menjaga stabilitas bahan baku. Mereka meminta perhatian dan dukungan bagi pelaku usaha mikro agar kenaikan harga tidak terus menggerus omzet dan keuntungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....