PLN Indonesia Power Bangun Kemandirian Warga Pesisir Tambaklorok

  • 18 Sep 2026 03:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang: Perubahan mulai terasa di kawasan pesisir Tambak Mulyo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Masyarakat yang sebelumnya lebih banyak bergantung pada hasil melaut kini mulai mengembangkan sumber penghasilan alternatif, mengelola lingkungan, hingga membangun ketahanan pangan keluarga.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari program “Intan Bahari” (Integrasi Pertanian, Peternakan dan Olahan Ikan Bangun Ketahanan Pangan dan Alam Lestari) yang dikembangkan PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian sarana, tetapi mendorong perubahan perilaku melalui pemanfaatan potensi lokal.

Perempuan pesisir mulai aktif dalam pertanian dan pengolahan pangan, nelayan mulai terhubung dengan rantai pasok produk olahan, pemuda bergerak dalam konservasi mangrove, sementara masyarakat mulai membangun kebiasaan pengelolaan sampah dan kegiatan edukasi bagi generasi muda. Salah satu inovasi yang mendukung perubahan tersebut adalah KERIS PRABU (Kombinasi Energi Hijau untuk PengeRIng dan Pengasapan ikan menuju Produk Bernilai dan Unggul).

Teknologi pengering dan pengasapan ikan ini mengadaptasi konsep Combined Cycle Power Plant yang menjadi kompetensi inti PLN Indonesia Power. Melalui KERIS PRABU, hasil tangkapan nelayan dapat diolah menjadi produk ikan kering dan asap yang memiliki nilai tambah. Teknologi ini juga mendukung konsep zero waste karena hasil endapan dari proses pengasapan dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan urban farming.

“Perubahan yang kami dorong bukan sekadar perubahan fasilitas, tetapi perubahan cara masyarakat melihat potensi di sekitarnya. Ketika masyarakat mulai mampu mengolah, memasarkan, dan mengembangkan sendiri potensi tersebut, maka pemberdayaan akan tumbuh menjadi kemandirian,” ujar Manajer Administrasi PLN Indonesia Power UBP Semarang, Eva Wirabuana.

Perubahan tersebut turut digerakkan oleh Sri Wahyuni, Ketua KWT Cantik Bahari sekaligus Ketua RW 15 Kelurahan Tanjung Mas, yang menjadi salah satu local hero dalam pengembangan INTAN BAHARI. Bersama 10 anggota KWT, Sri Wahyuni mengembangkan lahan seluas 500 meter persegi menjadi ruang terbuka hijau dan *greenhouse* yang juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran masyarakat.

“Dulu kami belum terpikir bahwa lahan dan hasil yang ada di sekitar kami bisa dikembangkan sejauh ini. Sekarang ibu-ibu tidak hanya menanam, tetapi juga belajar mengolah dan menjual hasilnya. Kami ingin kegiatan ini terus berjalan dan bisa memberikan manfaat bagi warga,” tutur Sri Wahyuni.

Ekosistem Intan Bahari kini melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari KWT Cantik Bahari, Bank Sampah Pesona Bahari, Tangguh Bahari, Srikandi Cipta Bahari, Nelayan Bahari, hingga Pondok Belajar Terang Bahari. Masing-masing memiliki peran yang saling terhubung dalam penguatan ekonomi, ketahanan pangan, lingkungan, serta pendidikan masyarakat.

Pengembangan program dilakukan melalui pendekatan pentahelix, dengan mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas/masyarakat, dan media. Dalam proses pendampingannya, PLN Indonesia Power UBP Semarang berkolaborasi dengan LPUBTN KAS untuk memperkuat kapasitas kelembagaan, inovasi, serta keberlanjutan program bersama masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program tidak berhenti pada bantuan, tetapi berkembang menjadi proses pembelajaran dan penguatan kapasitas masyarakat. Melalui Intan Bahari, PLN Indonesia Power UBP Semarang terus mendorong terbentuknya masyarakat pesisir yang semakin mandiri dalam mengelola potensi lokal, membangun ekonomi alternatif, menjaga lingkungan, dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....