Jadi Ikon MTQ, Lomba Qira’at Mujawwad di Simpang Lima Sedot Perhatian Masyarakat
- 13 Sep 2026 11:12 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Lantunan ayat suci Al Quran dari ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 menggema di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu 13 September 2026. Lomba Qira’at Mujawwad dewasa yang digelar di ruang terbuka itu pun menjadi salah satu magnet perhatian masyarakat yang berada di kawasan Simpang Lima.
Pantauan RRI, suara lantunan peserta dapat didengar langsung oleh masyarakat yang berada di sekitar lapangan. Sejumlah rombongan pelajar bahkan turut menyaksikan perlombaan secara bersama-sama, sehingga suasana kompetisi terasa lebih dekat dengan masyarakat.
PIC Majelis 1 Cabang Tilawah Golongan Dewasa dan Qira’at Golongan Mujawwad Dewasa, H. Khamdani menyebut pemilihan Simpang Lima sebagai lokasi lomba bukan tanpa alasan. Menurutnya, cabang Tilawah dan Qira’at Mujawwad merupakan salah satu ikon dalam penyelenggaraan MTQ sehingga sengaja ditempatkan di ruang terbuka agar bisa disaksikan dan didengar masyarakat.
“Karena Tilawah Dewasa ini dalam sebuah Musabaqah yang menjadi ikonnya. Tilawah inilah yang akan menjadi nilai lebih di antara majelis-majelis lomba yang lain,” ujarnya.
Disebutkannya pada sesi itu terdapat 12 peserta yang tampil dalam kompetisi tersebut. Peserta terdiri dari enam putra dan enam putri yang mengikuti perlombaan dengan sistem penilaian yang mengutamakan independensi dewan hakim.
“Untuk penampilan hari ini, hari Minggu tanggal 13 September 2026 untuk sesi pagi itu ada 12 peserta. Terdiri dari putri enam, putra enam,” ujar Khamdani.
Ia menjelaskan, penilaian dilakukan oleh 12 dewan hakim yang ditempatkan di ruangan khusus. Para dewan hakim tidak mengetahui identitas peserta maupun asal daerahnya karena penilaian dilakukan dengan hanya mendengarkan suara peserta.
“Dan dewan hakim itu tidak mengetahui peserta karena itu dalam rangka untuk menjaga independensi daripada penilaian. Jadi antara dewan hakim dengan peserta itu tidak bisa mengetahui dewan hakimnya siapa, kemudian pesertanya dari mana,” katanya.
Selain identitas peserta, urutan tampil dan materi bacaan juga diacak untuk menjaga objektivitas perlombaan. Peserta yang akan tampil terlebih dahulu berada di ruang karantina atau tempat steril dan hanya didampingi panitera serta pembawa acara sebelum pengundian dilakukan.
Menurut Khamdani, sistem tersebut diterapkan agar seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang sama selama kompetisi. Pengacakan juga menjadi bagian dari upaya menjaga transparansi dan mencegah munculnya prasangka dalam proses penilaian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....