Bunda Literasi Jateng Usul Bus Trans Jateng Jadi Ruang Baca Bergerak
- 12 Sep 2026 10:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Bus Trans Jateng diusulkan tidak hanya menjadi moda transportasi, tetapi juga ruang baca bergerak untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Bunda Literasi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mendorong pemerintah menyediakan buku bacaan di dalam bus untuk memanfaatkan waktu perjalanan sekaligus menumbuhkan budaya membaca.
Nawal melihat tingginya jumlah penumpang Trans Jateng sebagai peluang besar untuk menghadirkan aktivitas literasi di ruang publik yang digunakan masyarakat setiap hari. "Trans Jateng saat ini mengalami lonjakan penumpang yang sangat luar biasa. Jadi, para penumpang bisa menikmati perjalanan sambil membaca buku," ujar Nawal saat peluncuran Festival Literasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Mall Uptown Kota Semarang, Jumat 11 September 2026.
Menurut Nawal, budaya membaca tidak seharusnya hanya dibangun di sekolah maupun perpustakaan formal karena masyarakat memiliki banyak ruang untuk berinteraksi dengan buku. Transportasi umum menjadi salah satu tempat strategis karena masyarakat dapat memanfaatkan waktu perjalanan untuk membaca.
Ia menilai penguatan literasi juga harus mengikuti perkembangan zaman karena tantangannya kini tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat perlu dibekali literasi digital serta kemampuan berpikir kritis agar mampu memilah informasi yang benar dan mengenali berita bohong atau hoaks.
Nawal juga mendorong perpustakaan daerah bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih terbuka dan menarik bagi masyarakat. Menurutnya, perpustakaan perlu meninggalkan kesan kaku dan sepi dengan menghadirkan ruang interaktif seperti kafe, co-working space, hingga wadah kreativitas anak muda.
"Literasi bukan tentang siapa yang paling banyak membaca, tetapi siapa yang menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan dan kemanfaatan serta kemaslahatan bagi masyarakat," tegasnya.
Gagasan menghadirkan buku di Trans Jateng dan transformasi perpustakaan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Langkah itu sekaligus diharapkan mampu meningkatkan indeks literasi dan kegemaran membaca di Jawa Tengah dengan menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah Rahmah Nur Hayati mengatakan Festival Literasi Jawa Tengah digelar untuk meningkatkan minat membaca, menulis, dan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi berbagai unsur dalam ekosistem literasi daerah.
Festival Literasi Jawa Tengah melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak usia dini, pelajar, santri, penyandang disabilitas, penggiat literasi, seniman, hingga instansi pemerintah. Sejumlah pihak turut berpartisipasi, seperti Dinas Kearsipan Kabupaten/Kota se-Jateng, Bank Indonesia, Bank Jateng, penerbit nasional, dan komunitas literasi perguruan tinggi.
Beragam kegiatan juga disiapkan untuk menarik masyarakat mendekat dengan dunia literasi, salah satunya bedah buku bersama penulis Tere Liye. Festival tersebut juga menghadirkan workshop penguatan literasi bersama Bunda Literasi Jawa Tengah, pertunjukan monolog, serta seminar literasi santri.
Tidak hanya membaca dan berdiskusi, festival turut menghadirkan berbagai lomba yang menyasar kalangan pelajar dan anak-anak. Kegiatannya meliputi lomba band akustik SMA/SMK, debat mahasiswa, pentas ekspresi budaya, lomba mewarnai, mendongeng bersama Kak Kempo, hingga kompetisi drum band anak TK.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....