Hadapi Kekeringan Kaligesing, PDAM Purworejo Siapkan Skema Air Bersih
- 11 Sep 2026 16:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo - Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo menyiapkan skema jangka panjang untuk mengatasi kekeringan di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing. Solusinya tidak lagi hanya mengandalkan dropping tangki saat kemarau, melainkan memanfaatkan dua sumber air: Gua Seplawan dan Bendung Plipir.
Direktur PDAM Tirta Perwitasari Hermawan Wahyu Utomo, mengatakan, secara teknis potensi air di Kaligesing mencukupi. Kendala utama ada pada pembangunan jaringan pipa karena jarak tempuh dan perbedaan elevasi.
“Kalau kita ukur, untuk wilayah Kaligesing cukup. Memang yang perlu banyak biaya adalah perpipaannya karena jaraknya cukup jauh. Tetapi kalau melihat pemakaian air, jumlah penduduk dan potensi air di sana, secara keseluruhan masih mencukupi,” kata Hermawan di Kantor PDAM Purworejo, pada Jumat, 11 September 2026.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan, bahwa potensi debit sumber Seplawan diperkirakan 10 liter per detik. Air akan dipompa ke reservoir di titik tinggi, lalu dialirkan gravitasi ke Kaligesing.
“Dari Seplawan disedot ke atas, kemudian dimasukkan ke penampungan atau reservoir. Setelah itu dialirkan ke bawah. Karena tekanannya tinggi akibat elevasi, setiap sekitar 100 meter dibuat bak pelepas untuk mengurangi tekanan agar pipanya tidak jebol,” jelas Hermawan.
Kemudian, alternatif kedua adalah pengolahan air di Bendung Plipir yang dipompa naik untuk membantu Kaligesing. “Jadi bisa di-back up dari bawah, dari Bendung Plipir dinaikkan sedikit. Kalau dua-duanya terkoneksi, ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak kemarau di wilayah Kaligesing,” ujarnya.
Kedua opsi tersebut masih dalam tahap perencanaan dan butuh koordinasi lintas pemangku kepentingan.
Hermawan merinci, pembangunan jaringan dari Seplawan diperkirakan Rp3,5 miliar. Jika ditambah pengolahan di Plipir, investasi bisa mencapai hampir Rp10 miliar dengan harga saat ini. “Besarnya kebutuhan investasi membuat proyek ini tidak bisa dilihat semata dari aspek bisnis. Ini lebih ke sosial. Investasinya memang cukup besar karena jaraknya jauh. Tetapi ini tanggung jawab pemerintah daerah untuk mencukupi kebutuhan daerah-daerah yang secara bisnis tidak masuk,” tegasnya.
PDAM mengusulkan pipa HDPE karena lentur dan cocok untuk medan berbukit. Sambungan direncanakan langsung ke sambungan rumah SR, bukan hanya hidran umum.
Selama ini penanganan kekeringan masih melalui dropping tangki. “Untuk sekarang sistemnya masih dropping tangki. Kalau bisa, di situ ada sistem yang standar. Dibuat penampungan kemudian diturunkan, sehingga tidak selamanya bergantung pada dropping,” kata Hermawan.
Hermawan menegaskan, pelayanan air harus berjalan 24 jam. “Air itu untuk hajat hidup orang banyak dan merupakan kebutuhan dasar. Jadi pelayanan air bersih tidak bisa setengah hati. Harus all out dan 24 jam,” tegasnya.
Untuk mempercepat respons gangguan, PDAM menerapkan sistem shift, piket cabang, dan monitoring digital berbasis CCTV 24 jam. “Di PDAM tidak bisa bekerja parsial. Harus teamwork. Bagian produksi bekerja 24 jam, tidak bisa ditinggal. Itu tanggung jawab kita untuk melayani masyarakat Purworejo supaya jangan sampai terjadi trouble,” pungkasnya.
PDAM berharap Bappeda dan perangkat daerah terkait segera menyusun perencanaan bersama agar penyediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan bisa berjalan berkelanjutan.(Ags)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....