Kekeringan Meluas, BPBD Purworejo Salurkan 780 Ribu Liter Air Bersih

  • 08 Sep 2026 12:21 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Purworejo: BPBD Kabupaten Purworejo menyalurkan 780.000 liter air bersih hingga 7 September 2026 untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak musim kemarau. Bantuan tersebut telah menjangkau 18 desa di sembilan kecamatan, dengan potensi kebutuhan yang meningkat jika El Nino terjadi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo, Muhammad Yuniarto, mengatakan volume bantuan tersebut setara dengan 156 tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter. “Untuk dropping air bersih sampai dengan 7 September, jumlah total air yang kita salurkan 780.000 liter. Kalau disetarakan dengan tangki armada kita, menjadi 156 tangki,” kata Yuniarto, pada Selasa, 8 September 2026.

Wilayah yang telah menerima bantuan meliputi Bagelen tiga desa, Purworejo empat desa, Loano dua desa, Gebang satu desa, Purwodadi satu desa, Ngombol tiga desa, Pituruh satu desa, Kaligesing dua desa, dan Kemiri satu desa. Selain itu, BPBD juga menerima permohonan baru dari Desa Sedayu dan Desa Tegalsari yang akan terlebih dahulu melalui asesmen kebutuhan.

“Tujuan asesmen untuk memastikan permohonan dari pemerintah desa terkait kebutuhan air bersih. Kita memastikan desa sudah menyiapkan tempat penampungan dan kondisinya higienis,” jelas Yuniarto.

Menurut Yuniarto, puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut berpotensi semakin panjang apabila El Nino terjadi hingga awal 2027 dan dapat meningkatkan jumlah desa yang membutuhkan bantuan air bersih.

“Kalau sampai terjadi El Nino, otomatis saya meyakini akan ada penambahan desa yang membutuhkan air bersih. Tetapi harapannya jangan sampai terjadi,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan, BPBD menggandeng komunitas Bengkel AC Mobil, PMI, dan BBWS Serayu Opak yang dijadwalkan menyalurkan bantuan seminggu sekali. BPBD juga berkomunikasi dengan Apindo untuk mendukung penyaluran air pada 16-17 September mendatang.

BPBD menegaskan bantuan air bersih diprioritaskan untuk kebutuhan dasar masyarakat, bukan untuk pertanian maupun pembangunan. Kegiatan sosial dan keagamaan masih ditoleransi, sedangkan penggunaan untuk hajatan dan kebutuhan pribadi tidak diperkenankan. “Air bersih kami utamakan untuk keperluan pemenuhan kebutuhan layanan dasar, yaitu mandi, cuci, kakus. Kalau hajatan itu urusan pribadi. Kami mohon masyarakat bisa memahami,” ujarnya.

Sebagai antisipasi jangka panjang, BPBD mengusulkan kepada BNPB pembangunan sumur bor di titik rawan kekeringan serta pengadaan armada tangki air. “Kita juga mengusulkan armada tangki air karena armada tangki kita terbatas dan tidak semua ready. Untuk mendukung kelancaran pemenuhan layanan dasar air bersih, kita perlu bantuan pengadaan mobil tangki,” ungkap Yuniarto. .(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....