Harga Beras Naik, Gubernur Jateng Perintahkan Percepatan Intervensi Pasar

  • 08 Sep 2026 15:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan percepatan intervensi pasar menyusul kenaikan harga beras di sejumlah daerah, meski stok komoditas tersebut dalam kondisi melimpah. Langkah itu dilakukan agar lonjakan harga tidak membebani masyarakat dan memicu inflasi.

Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan ketersediaan beras hingga Agustus 2026 mencapai 4.348.101 ton. Angka tersebut jauh di atas kebutuhan yang tercatat sebesar 2.809.248 ton atau surplus sekitar 1,53 juta ton.

Menurut Luthfi, kondisi stok yang aman harus diikuti distribusi yang lancar hingga tingkat konsumen. Dinas terkait diminta memastikan pasokan beras tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.

Hasil pemantauan harga pada 2–6 September 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga beras di tingkat pengecer. Kenaikan rata-rata tercatat mencapai 2,5 persen di sejumlah pasar tradisional Jawa Tengah.

Menyikapi kondisi tersebut, Luthfi memerintahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Bulog untuk memperkuat berbagai langkah stabilisasi harga. Upaya itu meliputi Gerakan Pangan Murah, penyaluran bantuan pangan, distribusi beras SPHP, serta penambahan kios pangan murah.

“Stok kita masih ada. Untuk antisipasi kenaikan harga beras, siapkan Satgas dan lakukan dengan cara yang sebelumnya seperti gerakan pangan murah, penyaluran bantuan pangan, penyaluran beras SPHP, dan memperbanyak kios pangan murah,” kata Luthfi saat menerima audiensi pimpinan Bulog Jawa Tengah dan Kepala Dishanpan Jateng, Selasa 8 September 2026.

Pemantauan harga dilakukan di sejumlah pasar, antara lain Pasar Johar Semarang, Pasar Raya Salatiga, Pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Projo Ambarawa, Pasar Kendal, dan Pasar Jungke Karanganyar. Hasilnya menunjukkan harga beras medium maupun premium mengalami kenaikan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Beras medium non-SPHP dijual sekitar Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram atau 0,74 persen sampai 11,11 persen di atas HET. Sementara beras premium berada pada kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram atau 0,67 persen sampai 14,09 persen di atas HET.

Berbeda dengan jenis lainnya, harga beras SPHP relatif stabil di pasaran sekitar Rp60.000 hingga Rp62.000 per kemasan lima kilogram. Kenaikan harga beras diduga dipicu meningkatnya harga gabah di tingkat petani dan penggilingan di harga rata-rata mencapai Rp7.300 per kilogram, sedangkan Gabah Kering Giling berada di angka Rp8.666 per kilogram.

Kondisi itu membuat sebagian distributor hingga pengecer menahan penjualan untuk menghindari kerugian. Mereka terjepit antara kenaikan harga gabah dan ketentuan HET yang berlaku.

“Jangan sampai kenaikan harga beras menyulitkan masyarakat dan memicu inflasi. Segera lakukan intervensi, koordinasi dengan Bulog,” tegas Luthfi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Widi Hartanto mengatakan pemantauan harga terus dilakukan bersama instansi terkait. Operasi pasar juga digencarkan untuk menjaga kelancaran distribusi dan kestabilan harga beras.

Menurut Widi, Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu instrumen utama pengendalian harga di daerah. Hingga kini program tersebut telah dilaksanakan sebanyak 1.083 kali dengan total omzet mencapai Rp24,9 miliar.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah Gandi Prarista memastikan ketersediaan beras masih aman hingga akhir tahun. Penyaluran beras SPHP dan penyerapan gabah telah mencapai 100 persen dari target yang ditetapkan.

“Secara umum ketersediaan beras masih cukup. Stok Bulog Jateng ada sekitar 300 ribu ton, dikurangi bantuan pangan itu maka akhir tahun masih ada 200 ribu ton, ini untuk beras medium. Masih ada untuk beras premium,” ujar Gandi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....