Hasil Pengujian Udara Ungkap Abu Anak Krakatau Belum Capai Jateng
- 07 Sep 2026 22:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Hasil pengujian kualitas udara dan paper test yang dilakukan BMKG memastikan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum mencapai permukaan wilayah Jawa Tengah. Temuan tersebut menjadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat setelah beredar informasi mengenai potensi sebaran abu vulkanik hingga ke Jateng.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan pengujian dilakukan di sejumlah titik yang mewakili wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasilnya, seluruh lokasi pengamatan menunjukkan tidak adanya endapan abu vulkanik di permukaan.
“Jadi dari Kertajati, Tegal, kemudian Cilacap dan Semarang sendiri, paper test-nya negatif,” kata Yoga dalam siaran pers di Rumah Rakyat Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin 7 September 2026.
Pengujian dilakukan menggunakan metode paper test dengan menempatkan kertas berwarna hitam maupun putih di ruang terbuka selama periode tertentu. Metode tersebut digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya material abu vulkanik yang mengendap di permukaan.
Selama dua hari pengamatan pada 6-7 September 2026, BMKG Ahmad Yani Semarang bersama sejumlah stasiun meteorologi di Kertajati, Tegal, dan Cilacap melakukan pengujian serupa. Seluruh hasil pengamatan menunjukkan kondisi negatif atau tidak ditemukan jejak abu vulkanik.
Menurut Yoga, hasil tersebut menunjukkan abu vulkanik yang sempat terdeteksi di lapisan atmosfer atas tidak turun hingga ke permukaan. Kondisi itu berbeda dengan informasi sebaran abu yang terlihat melalui pemantauan satelit.
“Kenyataannya paper test kami mengatakan bahwa debu tidak sampai ke bawah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemantauan BMKG mengacu pada data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan citra satelit Himawari. Dari analisis tersebut diketahui abu vulkanik memang sempat bergerak ke arah Jawa Tengah di lapisan udara atas.
Namun, kondisi angin di lapisan bawah hingga sekitar 1.500 meter justru bergerak dari timur ke barat. Pola tersebut membuat abu vulkanik tidak turun dan tidak mencapai permukaan wilayah Jawa Tengah.
“Memang di lapisan udara atas trajektori abu vulkanik diperkirakan sampai ke daerah Jawa Tengah, tetapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya anginnya bergerak dari timur ke barat,” jelasnya.
Yoga menambahkan, hasil pengujian di wilayah barat semakin menguatkan kesimpulan bahwa Jawa Tengah berada dalam kondisi aman. Apalagi titik pengamatan dipilih untuk mewakili kawasan Pantura hingga pesisir selatan.
“Seandainya yang di sebelah barat kita aman, logika sederhananya harusnya semakin ke timur semakin aman. Jadi Semarang dan barangkali sampai Jawa Timur akan aman,” katanya.
Selain melakukan paper test, BMKG juga memantau kualitas udara secara rutin melalui pengukuran partikel debu di atmosfer. Hasil pengukuran terbaru menunjukkan kualitas udara di Jawa Tengah masih berada pada kategori sedang dan belum mengindikasikan dampak abu vulkanik.
Yoga menjelaskan, partikel abu vulkanik yang diperkirakan mencapai Jawa Tengah berukuran sekitar 50 hingga 70 mikron atau setara diameter rambut manusia. Sementara alat pemantau kualitas udara BMKG justru mengukur partikel yang ukurannya jauh lebih kecil.
“Hasil yang kami dapatkan masih dalam kondisi sedang. Artinya dapat disimpulkan debu-debu dari kondisi volcanic ash ini tidak sampai di Jawa Tengah untuk lapisan permukaan,” tegasnya.
Terkait banyaknya laporan debu yang menempel pada kendaraan, Yoga menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi musim kemarau panjang yang sedang melanda Jawa Tengah. Saat ini, 24 dari 35 kabupaten/kota di Jateng telah masuk kategori awas kekeringan meteorologis.
Kondisi tanah yang sangat kering membuat debu mudah beterbangan dan menempel pada kendaraan maupun bangunan. Karena itu, debu yang terlihat di motor dan mobil belum tentu berasal dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
“Kalau tadi ada cerita bahwa motornya kotor, bisa jadi karena efek musim kemarau yang kering. Kurang lebih begitu, debu biasa, bukan debu vulkanik,” ujar Yoga.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Menurutnya, informasi terkait sebaran abu vulkanik sebaiknya mengacu pada sumber resmi seperti BMKG, PVMBG, maupun VAAC Darwin.
“Mohon teman-teman media kalau mengambil dari lembaga yang resmi. Lembaga resmi VAAC Darwin atau BMKG atau PVMBG,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....