Perjalanan Kafilah MTQ dari 10 Daerah ke Jateng Terancam Erupsi Anak Krakatau

  • 07 Sep 2026 16:22 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi mengganggu perjalanan kafilah dari 10 daerah yang akan berangkat menuju ke Jawa Tengah untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 2026. Kafilah itu berasal dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Tengah.

Ancaman itu muncul karena terdapat 7 bandara yang ditutup sementara karena terdampak abu vulkanik dari erupsi gunung berapi. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Agung Pramono mengaku tengah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjamin kelancaran kedatangan peserta MTQ Nasional.

Menurut Agung, sebagian kafilah dari luar daerah mengandalkan Bandara Soekarno-Hatta sebagai titik transit menuju Jawa Tengah. Jika operasional bandara tersebut masih terganggu akibat abu vulkanik, maka jadwal perjalanan peserta berpotensi mengalami penyesuaian.

“Sebagian besar melewati Soekarno-Hatta sebagai transit sebelum menuju Jawa Tengah. Karena itu kami harus mengantisipasi jika terjadi perubahan jadwal atau pengalihan moda transportasi,” ujar Agung saat Update Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau dan Potensi Vulkanik Gunung Api di Jateng di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin 7 September 2026.

Agung mengaku, Dishub Jawa Tengah langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan alternatif perjalanan jika penerbangan tidak dapat dilakukan. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pemanfaatan kereta api dan transportasi darat guna memastikan peserta tetap bisa tiba tepat waktu.

Koordinasi juga dilakukan dengan PT KAI untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dari jalur udara ke jalur rel. Penambahan kapasitas dan penyesuaian layanan menjadi bagian dari skenario yang tengah disiapkan.

Agung menegaskan pemerintah akan terus berkomunikasi dengan seluruh kafilah terkait perkembangan situasi penerbangan. Langkah ini penting agar proses reschedule, refund, maupun pengalihan moda dapat dilakukan lebih cepat jika diperlukan.

General Manager (GM) Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang Sulistyo Yulianto membenarkan sebagian penerbangan menuju Semarang memang masih bergantung pada Bandara Soekarno-Hatta sebagai hub utama. Karena itu, perkembangan kondisi abu vulkanik di sekitar bandara tersebut menjadi faktor penting yang terus dipantau.

Sulis berharap kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik segera membaik menjelang pelaksanaan MTQ Nasional. Dengan begitu, para kafilah dari berbagai daerah tetap dapat masuk ke Jawa Tengah melalui jalur penerbangan seperti yang telah direncanakan.

Namun, ia menegaskan jika Bandara Soekarno-Hatta masih dinyatakan terdampak abu vulkanik, maka akan otomatis berdampak pada penerbangan lanjutan menuju Semarang yang selama ini mengandalkan Jakarta sebagai titik transit. “Kalau Soekarno-Hatta belum beroperasi, tentu perlu dipikirkan alternatif lain seperti kereta api, bus, atau rute penerbangan yang tidak melalui Jakarta, yang penting seluruh kontingen dapat merencanakan perjalanan lebih awal,” kata Sulis.

Meski demikian, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang memastikan operasional penerbangan di Jawa Tengah hingga saat ini masih berjalan normal. Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum berdampak pada aktivitas penerbangan di Semarang maupun Solo.

“Bandara Ahmad Yani Semarang dan bandara di Solo masih beroperasi normal. Sampai saat ini belum ada dampak abu vulkanik yang memengaruhi operasional penerbangan di Jawa Tengah,” ujarnya.

Sulis menegaskan Bandara Ahmad Yani siap mendukung penuh pelaksanaan MTQ Nasional di Jawa Tengah. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait juga terus dilakukan untuk memastikan mobilitas peserta tetap terlayani apabila terjadi perubahan skema transportasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....