Gelar Sarasehan Dialogis, Upaya FKUB Batang Berikan Ruang Diskusi Umat Beragama

  • 06 Sep 2026 14:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Batang menggandeng unsur Forkopimda dengan menggelar Sarasehan Dialogis, sebagai garda terdepan dalam upaya menjaga kerukunan antar umat beragama. Dialog tersebut menjadi ruang diskusi, untuk menemukan solusi tiap kali munculnya permasalahan antar umat beragama.

Ketua FKUB Batang, Subkhi menegaskan, tiap umat beragama di mata negara dan hukum memiliki hak yang sama, sehingga tidak diperkenankan untuk saling merendahkan. "Di mata Tuhan pun sama, yang paling mulia adalah dari kadar ketaqwaannya," tegasnya saat ditemui di Aula Kantor Bupati Kabupaten Batang, Minggu, 6 September 2026.

Wakil Bupati Batang Suyono mengharapkan keberadaan FKUB menjadi duta perdamaian yang menyampaikan pesan-pesan menyejukkan masyarakat. Bukan malah sebaliknya yang mengabarkan informasi negatif hingga membuat masyarakat tersulut emosinya.

"Tugas duta perdamaian ini ikut menjelaskan sebuah kebenaran di tengah-tengah masyarakat, bukan menyampaikan kabar yang justru menimbulkan konflik berkepanjangan," tegasnya.

Menyikapi digelarnya Sarasehan Dialogis oleh FKUB, Kapolresta Batang Kombes Pol Warsono mengapresiasi karena merupakan mitra Polri untuk mewujudkan Kamtibmas di wilayah hukum Polresta Batang. Salah satu upaya yang diintensifkan yakni dengan mengoptimalkan Kampung Kerukunan yang telah diinisiasi oleh FKUB, agar kolaborasi dengan Polresta makin dirasakan dampaknya bagi masyarakat.

"Kalau di suatu tempat sudah dibentuk jadi Kampung Kerukunan, tinggal diadopsi dan dikembangkan di wilayah lain, agar kebermanfaatannya dirasakan seluruh warga," terangnya.

Dari sisi pendampingan, Polresta pun berupaya mengawal generasi z dalam berinteraksi secara digital. Hal ini dikarenakan ancaman bahaya generasi yang terdoktrin oleh satu algoritma yang rawan muncul dalam media sosial.

"Dengan terlalu seringnya melihat suatu algoritma, secara lambat laun akan terdoktrin hingga akhirnya melahirkan satu persepsi dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Maka perlu digelorakan kembali budaya tepo seliro dan gorong-gorong yang sudah diajarkan leluhur," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....