Perang Timur Tengah Jadi Peluang, Komisi VII Dorong Ekspor Olahan Kopi
- 04 Sep 2026 21:32 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Gejolak geopolitik di Timur Tengah dinilai tidak selalu membawa dampak negatif bagi industri kopi nasional. Komisi VII DPR RI justru melihat situasi tersebut sebagai peluang bagi pelaku usaha pengolahan kopi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor ke berbagai negara.
Pandangan itu mengemuka saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Santos Jaya Abadi Semarang Plant, Jawa Tengah, Jumat 4 September 2026. Dalam kunjungan tersebut, para pemangku kepentingan membahas prospek industri kopi nasional di tengah persaingan global.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menilai industri kopi relatif tidak terdampak langsung oleh konflik Timur Tengah karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Meski demikian, beberapa komponen pendukung seperti kemasan masih bergantung pada impor.
Menurutnya, situasi konflik justru dapat membuka celah pasar baru bagi produk Indonesia. Ketika sejumlah negara menghadapi pembatasan perdagangan atau sanksi internasional, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan pesaing.
“Perang yang ada ini harus bisa kita lihat sebagai peluang. Ada negara yang produknya dibatasi masuk ke suatu pasar, dan itu bisa menjadi kesempatan bagi produk Indonesia untuk masuk,” ujarnya.
Salah satu pasar yang disebut memiliki potensi besar adalah Rusia. Negara tersebut dinilai membuka ruang bagi produk kopi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di tengah perubahan peta perdagangan global.
Optimisme terhadap pasar internasional juga ditunjukkan PT Santos Jaya Abadi yang telah membangun pabrik di Jeddah, Arab Saudi. Keberadaan fasilitas produksi tersebut diyakini dapat memperkuat akses perusahaan ke pasar Timur Tengah dan sekitarnya.
Direktur Utama PT Santos Jaya Abadi Soedomo Mergonoto mengatakan konflik di Timur Tengah sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap bisnis perusahaan. Sebab, ia mengakui orientasi pemasaran perusahaan saat ini masih didominasi pasar domestik. "Dari total produksi 400 hingga 500 ton kopi per hari, sekitar 95 persen dipasarkan di dalam negeri dan hanya 5 persen yang diekspor," tuturnyam
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyebut konsumsi kopi nasional memang masih menjadi penopang utama industri. Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Perindustrian, sekitar 80 persen produksi kopi nasional diserap pasar domestik, sedangkan sekitar 20 persen sisanya diekspor.
Putu menilai kopi merupakan komoditas yang tetap dibutuhkan masyarakat di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan permintaan kopi tetap terjaga bahkan ketika kondisi global sedang bergejolak.
Karena itu, ia optimistis industri kopi Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang besar di pasar internasional. Dengan dukungan ekspansi industri dan strategi penetrasi pasar yang tepat, peluang peningkatan ekspor dinilai semakin terbuka lebar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....