Rembang Masuk Status Awas Kekeringan, Permintaan Bantuan Air Bersih Meningkat

  • 31 Agt 2026 10:53 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Rembang – Kabupaten Rembang menjadi salah satu dari 14 daerah di Jawa Tengah yang ditetapkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam status Awas kekeringan. Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap pasokan air bersih di sejumlah wilayah semakin mendesak.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, M. Luthfi Hakim, mengatakan, pengajuan bantuan air bersih terus bertambah. “Untuk sementara sudah ada tujuh desa dan dua kelurahan serta satu sekolah yang mengajukan permintaan dropping air bersih,” kata Luthfi, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurutnya, pengajuan bantuan dari sejumlah wilayah tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan. Desa Logung menjadi salah satu wilayah yang lebih awal mengajukan permintaan pasokan air bersih akibat kondisi kemarau.

Meski permintaan terus bertambah, BPBD Rembang belum dapat melakukan penyaluran secara menyeluruh. Penanganan kondisi tersebut masih menunggu penetapan atau maklumat kedaruratan yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan dropping air bersih.

BPBD Rembang telah menyiapkan anggaran sekitar Rp75 juta untuk mendukung distribusi air bersih. Namun, anggaran tersebut diperkirakan belum mencukupi apabila kondisi kekeringan terus meluas.

“Kalau memang kurang, dan biasanya pasti kurang, kita bekerja sama dengan CSR, BUMN, BUMD dan perusahaan-perusahaan. Banyak masyarakat maupun forum-forum juga biasanya menghubungi kita untuk ikut membantu kekeringan,” ungkap Luthfi.

Dampak kekeringan juga dirasakan oleh sejumlah fasilitas pendidikan. Kepala SMPN 3 Kragan, Dwi Joko Prasetyo, mengatakan sekolahnya selama ini mengandalkan pasokan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Sebelumnya, sekolah tersebut mendapatkan suplai air bersih dari PMI sebanyak empat kali dalam sebulan. Namun, seiring berlangsungnya kemarau panjang, frekuensi bantuan tersebut mulai berkurang.

Kondisi semakin sulit karena sumber air yang dimiliki sekolah tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air sumur di sekolah tersebut terasa asin sehingga tidak mendukung kebutuhan seperti untuk berwudu.

“Sumur kita airnya asin, jadi untuk keperluan wudlu dan lain-lain tidak mendukung. Setelah suplai dari PMI berkurang, maka kami mencoba meminta bantuan dari BPBD,” ujar Dwi. (Mif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....