Wisatawan Tumpah Ruah di Dieng Culture Festival, Merawat Harmoni Lewat Tradisi
- 29 Agt 2026 20:37 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Ribuan wisatawan memadati kawasan Dataran Tinggi Dieng selama pelaksanaan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 pada 28-30 Agustus 2026. Di tengah ramainya kunjungan tersebut, masyarakat Dieng menunjukkan bahwa tradisi dan pariwisata dapat tumbuh berdampingan dalam semangat Spirit of Harmony.
Kabut yang menyelimuti pegunungan, candi-candi kuno, dan udara dingin khas Dieng menjadi latar kemeriahan festival budaya yang telah memasuki penyelenggaraan ke-16. Selama tiga hari, kawasan wisata Dieng berubah menjadi pusat pertemuan budaya, seni, alam, dan ekonomi kreatif.
Salah satu agenda yang paling menyedot perhatian wisatawan adalah ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal di kawasan Candi Arjuna. Sebanyak 13 anak berambut gimbal mengikuti prosesi adat yang menjadi warisan budaya khas masyarakat Dieng tersebut.
Bagi warga setempat, anak berambut gimbal memiliki makna khusus yang tidak sekadar menjadi atraksi wisata. Karena itu, prosesi pencukuran dilakukan melalui tahapan adat yang sarat nilai budaya dan mengikuti permintaan sang anak.
Tradisi yang terus dipertahankan itu menjadi daya tarik utama yang membedakan DCF dari festival lainnya. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati hiburan, tetapi juga menyaksikan langsung budaya yang tumbuh dan hidup bersama masyarakat Dieng.
Ketua Pelaksana DCF 2026, Alif Faozi, mengatakan festival ini menjadi ruang untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. Semangat tersebut dirangkum dalam tema Spirit of Harmony yang menggambarkan harmoni antara budaya, alam, pariwisata, dan kehidupan warga lokal.
Selain ritual budaya, DCF 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang melibatkan masyarakat dan wisatawan. Mulai dari Dieng Bersih, Festival Domba Batur, Kongko Budaya bersama Kiai Kanjeng, festival kopi, kirab budaya, hingga pertunjukan seni tradisional.
Suasana festival semakin semarak melalui pertunjukan Jazz Atas Awan yang menjadi ikon DCF. Penampilan Yura Yunita, Kunto Aji, Barasuara, Raim Laode, dan Pusakata berhasil menarik antusiasme ribuan penonton yang memadati area pertunjukan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Hanung Triyono, menilai DCF merupakan contoh keberhasilan pariwisata yang tumbuh dari kekuatan masyarakat. Festival yang berawal dari inisiatif warga tersebut kini berkembang menjadi agenda budaya yang dikenal hingga tingkat internasional.
Menurut Hanung, kekuatan DCF terletak pada perpaduan antara tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat yang masih terjaga. Keunikan itu menjadi modal besar untuk menarik wisatawan sekaligus memperkenalkan budaya Jawa Tengah ke panggung dunia.
“Sehingga destinasi wisata di sekitarnya juga bisa diekspos dan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi wisata,” katanya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menyebut DCF sebagai salah satu ikon budaya Jawa Tengah yang telah memiliki reputasi nasional dan internasional. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, katanya, akan terus mendukung keberlanjutan festival yang mampu menjaga tradisi sekaligus menggerakkan sektor pariwisata.
Tingginya jumlah wisatawan selama festival juga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Pelaku UMKM mendapat ruang promosi yang luas, sementara penginapan di kawasan Dieng dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah.
Melalui DCF 2026, masyarakat Dieng membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan perkembangan pariwisata. Di tengah tumpah ruah wisatawan yang datang, harmoni antara tradisi, alam, dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga di Negeri Atas Awan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....