Ubah Ribuan Ton Sampah Jadi Energi, Jateng Raih Penghargaan Nasional

  • 29 Agt 2026 15:06 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Strategi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi berbuah apresiasi nasional. Pemprov Jateng meraih penghargaan kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) dari Kementerian Dalam Negeri dan Tempo Media Group.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Malam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali Batch II Tahun 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center, Jumat 28 Agustus 2026 malam. Capaian itu menegaskan komitmen Jateng dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Luthfi menjelaskan, pengelolaan sampah di Jawa Tengah dilakukan berdasarkan klaster volume timbulan sampah. Untuk daerah dengan produksi sampah lebih dari 1.000 ton per hari, Pemprov menerapkan model aglomerasi dan regional yang diarahkan pada Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Skema tersebut mulai dijalankan melalui kerja sama dengan Danantara di sejumlah kawasan aglomerasi. Wilayah yang masuk dalam program itu antara lain Semarang Raya, Pekalongan Raya, Tegal Raya, dan Soloraya yang mencakup sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Tengah.

Sementara itu, daerah dengan timbulan sampah sekitar 100 hingga 200 ton per hari menggunakan model Refuse Derived Fuel (RDF). Melalui metode yang telah diterapkan di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kudus, Magelang, dan Kebumen ini, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif bagi industri semen.

Pemprov Jateng juga menyiapkan berbagai strategi untuk menangani timbunan sampah yang telah menumpuk di TPA. Salah satunya melalui rencana pengolahan sampah di TPA Jatibarang Semarang menjadi bahan bakar solar dengan menggandeng TNI Angkatan Darat.

Di kawasan Soloraya, pemerintah juga tengah mendorong percepatan investasi di sektor pengolahan sampah. Sejumlah investor telah diarahkan untuk melihat potensi pengembangan proyek yang mampu mengubah sampah menjadi sumber energi dan produk bernilai tambah.

Menurut Luthfi, penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya berfokus pada pengolahan di hilir, namun juga melalui peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi yang dijalankan. Karena itu, Pemprov Jateng terus mengembangkan program desa mandiri sampah di berbagai wilayah.

Selain penghargaan tingkat provinsi, sejumlah daerah di Jawa Tengah juga mencatat prestasi dalam ajang yang sama. Kabupaten Wonosobo menjadi terbaik pada kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI di tingkat kabupaten/kota.

Kabupaten Rembang meraih penghargaan terbaik pertama kategori akses dan kualitas layanan kesehatan tingkat kabupaten. Sementara Kota Tegal menjadi terbaik kedua tingkat kota pada kategori yang sama dan Kota Salatiga menjadi terbaik pertama kategori akses layanan pendidikan.

“Dari Jawa Tengah banyak yang dapat penghargaan, termasuk pemerintah provinsi. Ada Kabupaten Rembang, Kota Tegal, Kota Salatiga, dan Kabupaten Wonosobo. Ini menjadi motivasi kita untuk lebih giat dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat,” kata Ahmad Luthfi.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pengelolaan sampah dan lingkungan menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat. Pemerintah menargetkan tercapainya kondisi zero sampah pada 2029 melalui penguatan kolaborasi dan inovasi daerah.

Menurut Tito, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas kinerja pemerintah daerah. Daerah yang berprestasi juga berpeluang memperoleh insentif fiskal sebagai dukungan untuk memperkuat program pembangunan dan layanan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....