Hadapi Tantangan Masa Depan, Semarang Siapkan Kota Tangguh Menuju 2045

  • 02 Sep 2026 20:36 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Pemerintah Kota Semarang memperkuat teknologi dan tata kelola kota sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman banjir, rob, dan persoalan lingkungan menuju 2045. Langkah tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Semarang Resilience Forum 2026 bertema “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” di Fakultas Teknik Undip, Senin, 31 Agustus 2025.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, kota yang tangguh harus mampu membaca risiko sekaligus menyiapkan langkah antisipasi terhadap berbagai ancaman. “Resilient city itu bagaimana kita membaca risiko dan menyiapkan diri,” ujar Agustina.

Menurutnya, posisi Semarang sebagai kota pesisir membuat tantangan perkotaan yang dihadapi semakin kompleks. Salah satu tantangan besar yang dihadapi Semarang adalah persoalan sampah yang volumenya mencapai sekitar 1.200 ton per hari.

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang tidak hanya mengandalkan cara konvensional. Akan tetapi, juga memanfaatkan teknologi dan kolaborasi berbagai pihak.

Pemkot Semarang kembali mengembangkan AISSA atau AI Solusi Sampah Semarang untuk memantau kondisi tempat pembuangan sementara secara real time. Selain itu, teknologi Flood Eye disiapkan untuk mendukung deteksi dini terhadap potensi banjir dan rob.

Agustina mengatakan, penanganan persoalan sampah juga dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI dan perguruan tinggi. Sejumlah teknologi yang dikembangkan antara lain pyrolysis untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar setara solar, biodecomposer, serta PSEL atau pengolahan sampah menjadi energi.

Menurut Agustina, dukungan Kepala Staf Angkatan Darat juga diarahkan untuk membantu mengolah sekitar 3,5 juta ton sampah yang telah terakumulasi. Melalui teknologi pyrolysis, sampah tersebut diharapkan dapat diolah menjadi bahan bakar yang memiliki nilai guna.

Namun, penguatan teknologi dan infrastruktur tersebut harus diikuti perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. “Kalau teknologinya sudah bagus, infrastrukturnya sudah bagus, tetapi perilaku masyarakatnya tidak berubah, ya tetap saja akan menjadi masalah,” kata Agustina.

Ia juga menekankan pentingnya grand design penanganan banjir yang mengikat dalam jangka panjang. Dengan demikian, konsep penanganan banjir dan rob tidak mudah berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan di Kota Semarang.

Semarang Resilience Forum 2026 digelar atas inisiatif Pemerintah Kota Semarang bersama Undip dan Katadata. Forum tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan media untuk membahas pembangunan Semarang yang tangguh dan berkelanjutan menuju 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....