Angka Anak Tidak Sekolah di Kota Magelang Turun Signifikan, dari 444 Jadi 37 Anak

  • 21 Agt 2026 15:49 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Pemerintah Kota Magelang berhasil menurunkan jumlah anak tidak sekolah dari 444 anak pada tahun 2023 menjadi hanya 37 anak pada tahun 2025.
  • Wali Kota Damar Prasetyono menekankan bahwa penanganan anak tidak sekolah tidak semata-mata berorientasi pada penurunan angka statistik.
  • Pemerintah kota memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan tanpa terhambat oleh kondisi keluarga, sosial, ekonomi, atau persoalan lainnya.

RRI.CO.ID, Kota Magelang - Pemerintah Kota Magelang berhasil menurunkan jumlah anak tidak sekolah secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Dari 444 anak yang teridentifikasi tidak sekolah pada 2023, jumlah tersebut turun menjadi 37 anak pada 2025.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono mengatakan, penanganan anak tidak sekolah tidak hanya berorientasi pada penurunan angka. Pemerintah kota juga memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan tanpa terhambat kondisi keluarga, sosial, ekonomi, maupun persoalan lain yang dihadapi.

“Penanganan anak tidak sekolah tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar penurunan angka. Sebab, Pemkot Magelang harus memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan tanpa terhambat kondisi keluarga, sosial, ekonomi, maupun persoalan lain yang dihadapi,” kata Damar, Jumat, 21 Agustus 2026.

Damar menjelaskan, Pemkot Magelang telah melakukan upaya penanganan anak tidak sekolah sejak 2023. Langkah tersebut dilakukan sebelum pemerintah pusat menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, mengatakan pihaknya membentuk tim pamong balai belajar untuk turun langsung melakukan verifikasi. Tim tersebut menelusuri keberadaan sekaligus kondisi anak yang masuk dalam data anak tidak sekolah.

Dari hasil penelusuran, Pemkot Magelang kemudian memetakan kebutuhan masing-masing anak. Sebagian anak diarahkan untuk kembali menempuh pendidikan melalui jalur formal.

“Sedangkan lainnya difasilitasi melalui Satuan Pendidikan Non-Formal. Ada pula anak yang membutuhkan pendekatan berbeda sehingga difasilitasi melalui homeschooling,” katanya.

Menurut Nurwiyono, skema pendidikan tersebut terutama diberikan kepada anak dengan disabilitas atau kondisi psikologis tertentu. Kondisi tersebut membuat sebagian anak belum memungkinkan mengikuti pola pembelajaran reguler.

Ia menegaskan, penanganan anak tidak sekolah tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua anak. Setiap anak memiliki persoalan berbeda sehingga membutuhkan bentuk pendampingan dan jalur pendidikan yang disesuaikan dengan kondisinya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemkot Magelang untuk memastikan anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan. Penurunan jumlah anak tidak sekolah dari 444 menjadi 37 anak juga menjadi gambaran hasil penanganan yang dilakukan secara bertahap sejak 2023.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....