Dari Kuli hingga Karyawan Tetap, Investasi Ubah Nasib Warga Jateng
- 19 Agt 2026 17:54 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Di usia ke-81 tahun, Jawa Tengah tidak hanya mencatat pertumbuhan investasi yang terus meningkat. Lebih dari itu, masuknya investasi telah mengubah kehidupan ribuan warga melalui terbukanya lapangan kerja dan kesempatan memperbaiki taraf hidup.
Salah satu kisah itu datang dari Muhammad Ikmal, pemuda asal Desa Binangun, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Di usia 20 tahun, ia kini bekerja sebagai operator printing di PT Yih Quan Footwear yang beroperasi di KEK Industropolis Batang.
Sebelum mendapatkan pekerjaan tersebut, Ikmal sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan sebagai kuli setelah lulus SMA. Kesempatan baru datang setelah ia mengikuti pelatihan di Balai Industri Produk Tekstil dan Alas Kaki (BIPTAK) milik Disperindag Provinsi Jawa Tengah.
Selama 20 hari, Ikmal bersama ratusan peserta lainnya mendapat pelatihan, penginapan, dan konsumsi secara gratis. Setelah lulus, ia langsung ditempatkan bekerja di PT Yih Quan Footwear.
Kini, setelah 10 bulan bekerja, Ikmal telah berstatus karyawan tetap dengan penghasilan di atas UMK Batang. Pendapatan tersebut tidak hanya membuatnya mandiri, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Dulu menjadi beban keluarga, sekarang bisa bantu-bantu membeli keperluan rumah tangga. Dengan gaji pertama saya, alhamdulillah saya bisa membelikan ibu saya cincin, yang mana perhiasan itu pernah dijual untuk keperluan saya sekolah," ungkapnya.
Cerita serupa dialami Sella Sefira, warga Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar. Lulusan program pelatihan BIPTAK itu kini bekerja sebagai input printing di PT Yih Quan Footwear yang memproduksi alas kaki untuk merek internasional seperti HOKA dan Converse.
"Kini bisa bantu-bantu kebutuhan, seperti beli token listrik dan bantu sekolahkan adik juga. Kalau gaji pertama saya serahkan bapak dan ibu serta memperbaiki handphone," ujarnya.
Ikmal dan Sella berharap peluang kerja seperti yang mereka rasakan dapat dinikmati lebih banyak warga Jawa Tengah. Mereka juga berharap program pelatihan gratis terus diperluas agar semakin banyak generasi muda siap memasuki dunia kerja.
Dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja terlihat dari capaian Jawa Tengah pada semester pertama 2026. Berdasarkan data DPMPTSP Jawa Tengah, realisasi investasi mencapai Rp48,54 triliun dari 55.989 proyek yang menyerap 213.217 tenaga kerja.
Kondisi tersebut turut mendorong peningkatan jumlah penduduk yang bekerja. Data BPS mencatat jumlah penduduk bekerja di Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai 21,40 juta orang atau bertambah 16,36 ribu orang dibanding Februari 2026.
Perbaikan ekonomi juga tercermin dari menurunnya angka kemiskinan. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin tercatat 3,29 juta orang atau 9,21 persen, turun 81.250 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di saat yang sama, perekonomian Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen pada triwulan II 2026. Capaian itu menunjukkan investasi tidak hanya meningkatkan aktivitas usaha, tetapi juga memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pembangunan harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi warga. Karena itu, pemerintah daerah terus menghubungkan program pelatihan kerja dengan kebutuhan industri yang berkembang di berbagai kawasan investasi.
Menurut Luthfi, pengembangan kawasan industri dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan. Dengan cara itu, investasi tidak sekadar menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi benar-benar menjadi jalan bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....