Rewiring Hope Dorong Kolaborasi Tujuh Aspek untuk Bangun Generasi Tangguh

  • 19 Agt 2026 10:57 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Pembangunan generasi tangguh memerlukan pendekatan ekosistem yang melibatkan berbagai sektor, bukan hanya satu aspek seperti keluarga atau pendidikan saja.
  • Rewiring Hope Indonesia menghadirkan gagasan pembangunan generasi yang terkoneksi melalui keluarga, pemerintah, agama, ekonomi, media, seni, dan budaya.
  • Anak dan generasi muda dapat tumbuh secara utuh jika didukung oleh keterhubungan berbagai aspek kehidupan dalam ekosistem yang terpadu.

RRI.CO.ID., Semarang - Membangun generasi tangguh tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor, seperti keluarga atau pendidikan. Pembentukan ekosistem yang melibatkan berbagai aspek kehidupan juga diperlukan agar anak dan generasi muda dapat tumbuh secara utuh.

Founder Rewiring Hope Indonesia, Anastasia Tantri, mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa Rewiring Hope. Menurutnya, pembangunan generasi membutuhkan keterhubungan berbagai aspek, mulai dari keluarga, pemerintah, agama, ekonomi, media, hingga seni dan budaya.

Ia mengibaratkan ekosistem tersebut seperti sebuah desa yang diperlukan untuk membesarkan seorang anak. Ia menilai setiap aspek saling membutuhkan karena persoalan dalam satu bidang dapat berpengaruh terhadap bidang kehidupan lainnya.

“Untuk membesarkan sebuah anak itu dibutuhkan satu desa. Tidak cukup hanya keluarganya tangguh, tetapi kalau aspek yang lainnya juga tidak tangguh, maka ekosistemnya belum kuat,” uujanya kepada RRI, Rabu 19 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pendekatan tujuh aspek bangsa tersebut kemudian diwujudkan dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya memberikan materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman kepada peserta. Puncaknya ditandai dengan rekonsiliasi dan deklarasi yang melibatkan organisasi nonpemerintah atau NGO bersama organisasi perangkat daerah atau OPD.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memperkecil kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat sipil. Melalui proses tersebut, peserta diajak melihat bahwa pemerintah, NGO, komunitas, maupun masyarakat memiliki peran bersama dalam mewujudkan visi Indonesia yang lebih adil dan makmur.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah pemerintah hadir untuk kita. Ketika kita mempunyai visi, mereka hadir untuk membantu mewujudkan Indonesia Jaya,” katanya.

Selain mendorong kolaborasi, gerakan-gerakan Rewiring Hope juga diarahkan menjadi ruang aman bagi peserta untuk memahami dan menerima kondisi dirinya. Pendekatan ini menekankan bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam menghadapi persoalan, sehingga tidak dapat disamaratakan.

Ia menambahkan, tantangan di era digital juga membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam membangun karakter. Alih-alih hanya memberikan larangan terhadap berbagai konten digital, peserta dinilai perlu diberikan pengalaman yang membantu mereka memahami sendiri dampak dari pilihan dan perilakunya.

Sementara itu, rangkaian kegiatan Rewiring Hope Indonesia berikutnya direncanakan tetap membawa semangat pemulihan dan penguatan manusia. Di antaranya kegiatan yang berkaitan dengan Hari Disabilitas Internasional pada Desember dengan gagasan bahwa suara setiap anak wajib didengar, serta program Hari Ibu yang akan mengangkat pemulihan hubungan antara ibu dan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....