Kementerian Akui Jateng Jadi Primadona Investasi

  • 19 Agt 2026 11:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kementerian Investasi dan Hilirisasi mengakui Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang paling banyak dilirik investor. Infrastruktur yang memadai, kemudahan perizinan, kondisi wilayah yang kondusif, hingga biaya hidup kompetitif menjadi alasan utama Jawa Tengah dinilai menarik sebagai tujuan investasi.

Pengakuan tersebut disampaikan Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi Saribua Siahaan saat bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang, Selasa, 18 Agustus 2026. Pertemuan itu merupakan bagian dari rangkaian penilaian lapangan yang dilakukan Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jawa Tengah.

Menurut Saribua, sejumlah indikator tersebut membuat Jawa Tengah memiliki posisi kuat ketika ditawarkan kepada calon investor. Kemudahan lahan dan perizinan menjadi faktor penting yang biasanya dipertimbangkan investor sebelum menentukan lokasi penanaman modal.

"Jawa Tengah ini primadona, selain infrastruktur yang bagus, terus sistem pemerintahan daerah dan perizinan bagus, living cost-nya kompetitif sehingga menjadi daya tarik investor untuk memilih Jawa Tengah sebagai tujuan investasi," kata Saribua.

Ia menilai, keunggulan Jawa Tengah juga didukung kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menciptakan kemudahan investasi. Kolaborasi tersebut dilakukan Pemprov Jateng melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi.

Karakteristik Jawa Tengah, lanjut Saribua, juga cocok untuk pengembangan industri manufaktur dan sektor padat karya. Kondisi tersebut menjadi nilai tambah karena investasi di sektor tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

"Pengalaman saya sendiri (ketika menawarkan potensi investasi), investor yang memilih Jawa Tengah itu tidak hanya 1 atau 2. Yang jelas, Jawa Tengah itu primadona yang dilirik banyak investor," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemerintah daerah akan terus menjaga kepercayaan investor dengan menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif. Pemerintah juga memperkuat kemudahan perizinan, jaminan keamanan, regulasi, infrastruktur, serta kualitas sumber daya manusia.

"Menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif memang menjadi tanggung jawab kita semua. Investasi ini penting untuk perkembangan wilayah, mereduksi angka kemiskinan dan pengangguran," katanya.

Daya tarik investasi tersebut tercermin dari realisasi penanaman modal Jawa Tengah yang terus menunjukkan peningkatan. Pada 2025, realisasi investasi mencapai sekitar Rp110 triliun, sedangkan sepanjang semester I-2026 telah mencapai Rp59,94 triliun.

Realisasi tersebut terdiri atas PMA sebesar Rp25,92 triliun, PMDN Rp22,62 triliun, dan UMK Rp11,40 triliun. Investasi yang masuk ke Jawa Tengah pada periode tersebut juga telah menyerap sekitar 213 ribu tenaga kerja.

Kinerja investasi tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Pada semester I-2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen, sementara angka kemiskinan per Maret 2026 turun dari 9,48 persen menjadi 9,21 persen.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah juga turun menjadi 4,24 persen pada Februari 2026. Angka tersebut lebih rendah 0,09 persen dibandingkan Februari 2025 yang tercatat sebesar 4,33 persen.

"Dalam membangun wilayah, kita tidak bisa mengandalkan APBD saja, maka investasi menjadi salah satu sumber daya. Untuk itu kami terus tawarkan potensi investasi di Jawa Tengah kepada banyak calon investor," kata Luthfi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....