Kompaknya Kemerdekaan di Kampung Gang Presiden, Ada Kostum Daur Ulang-Mak Lampir
- 17 Agt 2026 20:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Upacara peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Kampung Gang Presiden Puntan, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Senin 17 Agustus 2026, berlangsung tidak biasa. Warga memadukan semangat nasionalisme dengan kreativitas melalui kostum daur ulang, pakaian adat Nusantara, hingga penampilan unik tokoh Mak Lampir.
Sejak pukul 07.00 WIB, lapangan upacara telah dipenuhi warga yang antusias mengikuti pengibaran Sang Merah Putih. Perayaan kemerdekaan di kampung tersebut disulap menjadi panggung kebhinekaan sekaligus kampanye kepedulian lingkungan.
Keunikan langsung terlihat dari jajaran petugas upacara yang seluruhnya diperankan oleh ibu-ibu dan remaja putri. Mulai dari pembawa acara, pasukan pengibar bendera, hingga pembaca UUD 1945 dipercayakan kepada kaum perempuan.

Pemilihan tersebut menjadi simbol bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penyangga peradaban bangsa. Selain itu, langkah tersebut juga menunjukkan perempuan mampu tampil dan berkontribusi di ruang publik dengan penuh percaya diri.
Barisan peserta upacara pun tampil berwarna-warni dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah warga juga mengenakan seragam profesi dan kostum unik yang mengundang perhatian peserta lainnya.

Sorotan utama datang dari kostum adat hasil daur ulang sampah plastik yang dikenakan beberapa warga. Kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa peringatan kemerdekaan juga dapat menjadi sarana edukasi pengelolaan sampah.
Warga RT 02/RW 01, Emma Apriliana, memanfaatkan bubble wrap bekas pembungkus paket belanja daring menjadi outer dan rok bernuansa adat Kalimantan. Ide tersebut muncul dari keprihatinannya terhadap banyaknya limbah plastik rumah tangga yang sering berakhir di tempat sampah.
"Inikan ada bekas buble warp banyak dirumah, biasanya buat bungkus paket belanja online, nah ini daripada dibuang saya kumpulin kemudian saya jahit sendiri, saya eksplore dan saya buat kostum 17an," kata Emma.
Emma mengaku memperoleh inspirasi dari berbagai unggahan di media sosial yang menampilkan modifikasi kostum berbahan limbah plastik. Kemampuan menjahit yang dimilikinya kemudian membantu mewujudkan ide tersebut menjadi kostum yang menarik perhatian banyak orang.
"Ya saya dapat idenya dari sosial media, sering lihat modifikasi modifikasi kostum dari sampah plastik," jelas Emma.
Penampilan Emma ternyata tidak hanya mendapat apresiasi saat upacara berlangsung. Kostum yang ia unggah melalui status WhatsApp bahkan sudah menarik minat warga dari kampung lain untuk menyewanya.
"Alhamdulillah sudah ada yang pesan sewa kostum saya mas, gara gara saya posting di status WhatsApp," ungkap Emma.
Kreativitas serupa juga ditunjukkan Ratna Wardani, warga RT 02/RW 01, yang mengubah kemasan deterjen bekas menjadi kostum upacara. Ia membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk merancang dan menyelesaikan busana tersebut.
"Ya daripada bungkus deterjennya dibuang ya mending dimanfaatkan untuk kostum 17an mas, siapa tau bisa jadi inspirasi banyak orang. Ini saya butuh Waktu seminggu," jelas Ratna.
Bertindak sebagai pembina upacara, tokoh masyarakat Puntan, Waimin S.Pd, menegaskan bahwa tema besar kegiatan tahun ini adalah Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, persatuan dan kerukunan menjadi fondasi utama yang membuat masyarakat Puntan tetap solid.
"Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya menjaga guyub rukun antar warga, bergotong-royong, dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat," terang Waimin.
Ia menambahkan, penggunaan pakaian adat dan kostum profesi juga membawa pesan penting bagi generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, masyarakat diharapkan tetap mengenal budaya bangsa sekaligus aktif berkarya melalui profesi masing-masing.
"Selain itu, kostum profesi membawa pesan tersirat bahwa di usia kemerdekaan ke-81 ini, masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus berkontribusi melalui profesinya masing-masing," kata Waimin.
Salah seorang warga, Suharsulasmono, mengaku bangga dapat mengikuti upacara dengan mengenakan beskap khas Jawa. Ia berharap semangat persatuan yang tercermin dalam kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas.
"Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya berharap cerminan upacara hari ini dapat menjadi pemantik semangat persatuan, tidak hanya bagi warga di sini, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara luas," ujar Suhar.
Ketua RT 02, Santoso, menyampaikan rasa haru melihat tingginya partisipasi warga dalam menyukseskan acara. Menurutnya, kekompakan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga tradisi positif seperti ini agar terus berlanjut.
"Saya sangat bangga dan senang warga Puntan kompak kompak, agenda positif seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang," tutur Santoso.
Hal senada disampaikan Ketua RT 03, Puji Riyanto, yang menilai kesuksesan upacara menjadi bukti kuatnya kerukunan warga. Kebersamaan tersebut, kata dia, mampu mengatasi berbagai perbedaan dan dinamika kehidupan sehari-hari.
"Ini membuktikan bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan yang ada, warga Puntan bisa bersatu dan sukses melaksanakan agenda upacara bersama-sama. Ini adalah wujud guyub rukun yang sesungguhnya," pungkas Puji.
Kampung Puntan sendiri dikenal sebagai "Kampung Gang Presiden" karena jalan-jalan di kawasan tersebut menggunakan nama para presiden Indonesia. Mulai dari Gang Soekarno, Gang Soeharto, Gang Habibie, Gang Gus Dur, Gang SBY, hingga Gang Jokowi menjadi identitas unik yang membedakan kampung tersebut dari kawasan lainnya.
Menurut Waimin, penamaan gang tersebut merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan warga kepada para pemimpin bangsa. Ia berharap para pemimpin juga terus memberikan teladan dan kinerja terbaik bagi masyarakat.
"Harapannya dengan ungkapan kecintaan warga dengan pemimpinnya melalui nama gang ini juga direspon para pemimpin agar memberikan teladan dan kinerja terbaik untuk rakyat," tutur Waimin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....