Program Agro Pesisir dan Kebanksentralan sejak Dini Jadi Program Andalan BI Tegal
- 13 Agt 2026 20:37 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Program Agro Pesisir dan Kebanksentralan Sejak Dini Jadi Program Andalan BI Tegal
- Media Briefing BI Jawa Tengah bersama Kantor Perwakilan BI Tegal, BI Solo, dan BI Purwokerto di Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Pekalongan - Program Agro Pesisir dan Edukasi Kebanksentralan yang menyasar anak-anak menjadi program andalan Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia ( KPwBI) Tegal yang digaungkan dalam Media Briefing BI Jawa Tengah bersama Kantor Perwakilan BI Tegal, BI Solo, dan BI Purwokerto di Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026.
Selain program agropesisir, Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia ( KPwBI) Tegal, Bimala memaparkan program edukasi “Membangun Kebanksentralan sejak Dini melalui Media Cerita Anak”.
BI Tegal telah menerbitkan tiga buku cerita anak sebagai sarana mengenalkan fungsi dan kebijakan Bank Indonesia dengan bahasa sederhana dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak.
"Tiga buku tersebut yakni “Uang Mainan Jihan”, “Kok Jadi Mahal”, dan “Untung Ada QRIS”. “Uang Mainan Jihan” mengajarkan ciri keaslian rupiah, kampanye cinta, bangga, dan paham rupiah, serta metode 3D dilihat, diraba, dan diterawang.
Sementara “Kok Jadi Mahal” memperkenalkan konsep inflasi secara sederhana, termasuk perubahan harga barang dan pentingnya perilaku konsumsi yang bijak. "Adapun “Untung Ada QRIS” mengenalkan transaksi digital, penggunaan QRIS, sekaligus perilaku transaksi yang aman," ujar Bimala.
Menurut Bimala, pendekatan melalui cerita membuat edukasi kebanksentralan dapat menjangkau kelompok usia yang sebelumnya belum banyak tersentuh. Program itu juga menghubungkan edukasi BI dengan lingkungan sekolah dan keluarga serta memperkuat pemahaman masyarakat mengenai rupiah, inflasi, dan sistem pembayaran.
Selain itu, Program Agro Pesisir, yakni lahan bekas terdampak rob yang selama ini menjadi persoalan serius di pesisir Kota Pekalongan mulai diubah menjadi lahan produktif. Bank Indonesia (BI) Tegal bersama pemerintah daerah dan sejumlah pihak mengembangkan padi varietas biosalin yang mampu tumbuh di lahan terdampak salinitas.
Program yang melibatkan Bank Indonesia, Pemerintah Kota Pekalongan, TNI, BRMP Biogen, serta sejumlah pemangku kepentingan tersebut menjadi salah satu upaya menjawab persoalan lahan eks rob. Program ini juga bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah pesisir.
Bimala mengatakan, pada 2026 BI Tegal berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Pekalongan menginisiasi pengembangan benih biosalin. Program itu juga melibatkan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah dengan target menghasilkan 800 hingga 1.000 benih sebar bersertifikat.
"Benih tersebut kita proyeksikan mampu memenuhi kebutuhan tanam sekitar 35 hingga 40 hektare di kawasan lahan eks rob Kota Pekalongan dan sekitarnya. Hasil uji coba di lapangan menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan," ungkapnya.
Pada demplot seluas 1,5 hektare milik petani di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, produktivitas padi biosalin tercatat mencapai 5,7 hingga 6,6 ton per hektare. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa lahan yang sebelumnya terdampak rob dan salinitas tidak selalu harus dibiarkan tidak produktif.
Dengan varietas yang sesuai dan dukungan teknologi serta kolaborasi lintas sektor, lahan eks rob berpotensi kembali menjadi sumber produksi pangan. “Dalam uji coba demplot di lahan bekas rob seluas 1,5 hektare milik petani di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, hasil panen mencapai 5,7 hingga 6,6 ton per hektare,” kata Bimala.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Noor Nugroho mengingatkan adanya risiko kekeringan pada semester II 2026 yang dapat menekan produksi pangan dan berdampak terhadap stabilitas harga. Kondisi tersebut menjadi peringatan bersama Kantor Perwakilan BI Tegal, BI Solo, dan BI Purwokerto.
Noor mengatakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah memang mengalami sedikit perlambatan, tetapi masih berada dalam kondisi solid. Sementara itu, tekanan inflasi menunjukkan kecenderungan menurun.
Pada Juli 2026, Jawa Tengah mencatat deflasi sekitar 0,13 persen secara bulanan. Dengan kondisi tersebut, inflasi tahunan turun menjadi sekitar 2,6 persen, masih dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.
"BI tidak ingin terlena dengan kondisi inflasi yang relatif terkendali. Kelompok volatile food masih menjadi perhatian, terutama komoditas cabai merah, cabai rawit, bawang merah, beras, telur ayam, dan daging ayam, yang masih perlu diwaspadai adalah volatile food,” ujar Noor.
Menurut dia, pengendalian inflasi harus dilakukan dari hulu hingga hilir. BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendorong peningkatan produktivitas petani, perbaikan distribusi, penguatan data pangan, serta edukasi kepada masyarakat agar berbelanja secara bijak.
Dengan ancaman kekeringan yang mulai diantisipasi dan persoalan rob yang masih menghantui kawasan pesisir, program biosalin BI Tegal menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan penguatan pangan. Tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga tentang mengembalikan fungsi lahan yang sebelumnya terdegradasi menjadi sumber pangan baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....