IPEMI Jateng dan My Bumi Fasilitasi UMKM Bidik Pasar Belgia
- 12 Agt 2026 01:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kolaborasi Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia atau IPEMI Jateng dan My Bumi gelar Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM di Hotel Front One HK Semarang, Selasa 11 Agustus 2026. Lewat kegiatan ini, IPEMI mendorong UMKM Jateng naik kelas sehingga produknya bisa laris di pasar internasional, salah satunya Belgia.
Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM mengusung tema Green Passport to Europe: Empowering Small Bussiner for Sustainable Global Impact. Forum ini merupakan langkah strategis dalam menyiapkan pelaku UMKM Indonesia menghadapi pasar Uni Eropa di bawah kerangka Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Ketua IPEMI Jawa Tengah Lies Iswar Aminuddin mengungkapkan kolaborasi dengan My Bumi dalam rangka mendorong pemberdayaan ekonomi pengusaha muslimah agar mampu naik kelas ke pasar global.
"Dan sebagai langkah awal kita membidik pasar Belgia. Diharapkan bisa menjadi pintu pembuka pasar negara-negara Eropa lainnya. Lewat forum ini bisa didapat peluang pasar yang bisa ditangkap oleh pelaku UMKM kita. Termasuk dengan standar yang diterapkan, tentunya kualitas produk kita juga harus menyesuaikan," kata dia.
Dikatakan, meski kerja sama perdana, My Bumi sudah mengantongi setidaknya 80 jenis produk pelaku UMKM di bawah naungan IPEMI Jateng yang berpeluang laku keras di pasar Eropa, khususnya Belgia. Produk makanan kecil atau kudapan menjadi salah satu favorit warga Belgia. Juga produk kerajinan rumah tangga seperti kelengkapan sofa, tas, topi hingga perabotan hotel.
"Coco chips minatnya sangat besar di sana, bahan dari kelapa tua yang dijadikan chips atau keripik, ternyata banyak disukai masyarakat sana. Termasuk tomato chips, bahkan rengginang, dibuat camilan di sana. Rengginang banyak digunakan untuk bekal anak sekolah. Juga ada aneka jamu, banyak juga disukai masyarakat Belgia. Tentunya peluang ini harus ditangkap dari sisi peningkatan kualitas makanan hingga kemasannya," beber dia.
Dalam kesempatan seminar tersebut, My Bumi memaparkan sejumlah materi menyangkut peluang produk UMKM yang banyak diminati pasar Eropa, khususnya Belgia. Termasuk tips bagaimana agar produk yang dihasilkan UMKM agar bisa memenuhi standar perdagangan global.
CEO My Bumi Fatmi Woro Dwi Martanti memaparkan gambaran umum kesiapan ekspor dengan menekankan bahwa kesenjangan SDM seperti mindset, kepemimpinan dan literasi bisnis seringkali menjadi penyebab utama kegagalan ekspor sebelum masalah fisik produk muncul.
"Kami memandang tahun 2026 sebagai waktu yang krusial bagi UMKM Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam kurun waktu yang tersisa sebelum perjanjian (IEU-CEPA) berlaku efektif, khususnya membenahi kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan dan kepatuhan asal barang," beber Woro yang juga Ketua PPLN Ipemi Belgia.
Dalam sesi Give Your Product a Passport, Expert Eksport European, Emmanuel Weitzel menjelaskan tiga pertanyaan kunci pembeli Eropa terhadap produk impor. Yakni, darimana asalnya, bagaimana dibuat dan apa dampaknya bagi lingkungan.
"Penting juga transparansi ketertelusuran dan prinsip 'buktikan kebenaran kecil, jangan janjikan kebohongan besar' untuk membedakan produk jujur dari praktik greenwashing," kata dia.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin yang hadir di kegiatan tersebut mengapresiasi positif langkah IPEMI Jawa Tengah yang berinisiasi memberi wadah bagi pelaku UMKM untuk bisa tembus pasar internasional.
"Nah melalui kegiatan ini, sudah waktunya UMKM kita naik kelas. Kalau sekadar omon-omon, maka UMKM akan gitu-gitu saja. Kalau mau naik kelas ya memang harus ada kegiatan edukasi, pendampingan sepert ini," ujarnya.
Iswar berharap ketika UMKM Jateng dan Kota Semarang bisa tembus pasar Eropa, maka ekonomi kerakyatan bisa terdongkrak. Lebih luas akan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar UMKM.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....