Pompa Air Tenaga Surya Bikin Petani Jateng Hemat, Pemanfaatannya akan Diperluas

  • 10 Agt 2026 15:57 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Petani Jawa Tengah telah menggunakan pompa air tenaga surya (PATS) untuk mengurangi biaya produksi pertanian secara signifikan.
  • Program Benteng Pangan Jawa Tengah mendukung penerapan teknologi energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
  • PATS telah terpasang di tiga kabupaten (Pekalongan, Brebes, dan Cilacap) sebagai solusi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

RRI.CO.ID, Semarang - Petani di Jawa Tengah mulai merasakan manfaat penggunaan pompa air tenaga surya (PATS) yang mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga ketersediaan air untuk lahan pertanian. Teknologi berbasis energi baru terbarukan tersebut dikembangkan melalui program Benteng Pangan Jawa Tengah sebagai upaya mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Saat ini PATS telah terpasang di tiga lokasi, yakni Kabupaten Pekalongan, Brebes, dan Cilacap. Kehadirannya menjadi solusi bagi petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang selama ini membebani biaya operasional pertanian.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meninjau langsung pemanfaatan PATS di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Senin, 10 Agustus 2026. Menurutnya, teknologi tersebut menjadi langkah nyata transformasi sektor pertanian menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Luthfi menjelaskan, pompa tenaga surya memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pompa berbahan bakar diesel. Selain menghemat energi dan bebas polusi, sistem tersebut juga mampu beroperasi sepanjang hari untuk memenuhi kebutuhan air petani.

Menurut dia, tiga titik penerapan PATS saat ini mampu mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian. Khusus di Kabupaten Pekalongan, fasilitas tersebut menopang kebutuhan air bagi hampir 20 hektare sawah produktif.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana memperluas penerapan teknologi tersebut ke berbagai daerah. Bahkan, tiga lokasi yang sudah berjalan akan dijadikan model pengembangan bagi kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah.

Ia menambahkan, teknologi serupa juga telah dimanfaatkan di Sayung, Kabupaten Demak, untuk mendukung penanganan banjir. “Ini akan kita kembangkan, nanti akan kita sosialisasikan, lalu infrastrukturnya kita siapkan,” kata Luthfi.

Selain sektor pertanian, pompa tenaga surya dinilai berpotensi diterapkan pada berbagai kebutuhan lain. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Jawa Tengah memperkuat transformasi energi baru terbarukan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.

Perwakilan Gapoktan Desa Tengengwetan, Kirom, mengatakan penggunaan PATS terbukti memangkas kebutuhan bahan bakar solar secara signifikan. Jika sebelumnya pompa diesel menghabiskan sekitar 30 liter solar dalam sehari semalam, kini kebutuhan tersebut turun menjadi sekitar 15 liter.

Sebanyak 30 petani padi memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengairi hampir 20 hektare sawah. Air dipompa dari sungai sekitar desa sehingga kebutuhan irigasi tetap terpenuhi meski memasuki musim kemarau.

Menurut Kirom, pompa berbahan bakar solar kini hanya digunakan pada malam hari, sementara siang hari mengandalkan energi matahari. Kondisi itu membuat biaya produksi petani menjadi lebih ringan dan keuntungan usaha tani meningkat.

Petani Perwakilan Gapoktan Tani Makmur di Desa Banjaranyar, Kabupaten Brebes. P, Gilang yang juga memanfaatkan teknologi ini mengatakan PATS membantu petani mengatasi persoalan air asin akibat rob yang sering masuk ke saluran irigasi saat musim kemarau.

Petani dapat memperoleh sumber air yang lebih baik untuk lahan pertanian, serta memungkinkan petani mengatur pola tanam secara lebih fleksibel dan meningkatkan produktivitas pertanian di wilayahnya.

"Petani kita bisa lebih maju masa tanam. Bisa kita rekayasa sendiri musim tanamnya," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....