Rembugan Bocah Purworejo 2026, 300 Pelajar Suarakan 10 Aspirasi
- 04 Agt 2026 17:03 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Purworejo – Anak-anak di Kabupaten Purworejo menegaskan haknya bukan hanya dilindungi, tetapi juga didengar. Pesan itu mengemuka dalam Rembugan Bocah Purworejo (RBP) 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Purworejo, pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi puncak Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Kabupaten Purworejo dengan tema nasional “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Sementara tema RBP 2026 adalah “Bangun Ketahanan Mental Anak, Wujudkan Generasi Tangguh dan Berdaya”.
RBP 2026 diikuti sekitar 300 peserta perwakilan siswa SMP/MTs, SMA/SMK/MA se-Kabupaten Purworejo. Hadir pula perangkat daerah, camat, FORKARE, Forum Anak Kecamatan, Forum OSIS, PMI, Genre, Makna, dan unsur terkait lainnya.
Forum ini menjadi ruang diskusi anak untuk menyampaikan persoalan, gagasan, dan solusi. Hasilnya dirumuskan menjadi “Suara Anak Purworejo” yang akan disampaikan ke Bupati Purworejo dan OPD sebagai bahan perencanaan pembangunan ramah anak.
"Rembugan Bocah ini untuk menampung aspirasi, sebagai wadah aspirasi anak-anak Kabupaten Purworejo untuk menyampaikan ide, pendapat, atau sarannya untuk kemajuan Kabupaten Purworejo," kata Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3APMD Purworejo Heni Safaryuni Tataningsih.
Lebih lanjut, Heni menjelaskan, bahwa dari diskusi 5 klaster, anak-anak menyepakati sekitar 10 poin aspirasi. Tiga sorotan utama yakni Akses Literasi dan Perpustakaan. Anak-anak pelosok masih kesulitan menjangkau perpustakaan daerah. Mereka mendorong fasilitas bacaan diperluas agar merata. Kedua Ruang Bermain Ramah Anak. Diminta ruang publik yang aman, nyaman, inklusif, dan bisa diakses anak berkebutuhan khusus dan ketiga Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Anak-anak berharap aturan KTR benar-benar ditegakkan agar tumbuh di lingkungan sehat.
"Setidaknya ada sekitar 10 Suara Anak. Salah satunya kawasan bebas rokok, akses Perpustakaan Kabupaten Purworejo yang didekatkan, kemudian taman bermain ramah anak, dan beberapa aspirasi lainnya," jelas Heni.
Sementara itu, Ketua FORKARE Sachio Rohman Putra menyoroti perundungan masih jadi persoalan relevan di sekolah. "Pencegahan, butuh peran anak, keluarga, guru, dan masyarakat," katanya.
Selain itu peserta juga dibekali materi OCSEA (Online Child Sexual Exploitation and Abuse). Dengan maraknya aktivitas anak di dunia maya, pemahaman tentang keamanan digital dinilai penting. "Harapannya anak-anak Kabupaten Purworejo lebih memahami dan bisa mengaplikasikan materi yang disampaikan mengenai klaster, hak anak, bullying, dan OCSEA," kata Sachio.
Membacakan sambutan Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Rita Purnama, menegaskan anak bukan hanya objek perlindungan. “Jangan takut untuk menyampaikan pendapat. Suara kalian penting bagi kami,” pesan Bupati.
Bupati juga mendorong anak menjadi pelopor dan pelapor. Pelopor menciptakan lingkungan aman, pelapor berani melapor jika melihat kekerasan ke orang tua, guru, atau pihak terpercaya.
Pemkab berkomitmen mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Namun tantangan masih besar. Heni menyebut data UPT mencatat 73 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan mayoritas korban anak. "Harapan kami selaku DP3APMD terkait dengan perlindungan anak, kami ingin anak-anak Purworejo dapat melindungi dirinya sendiri, sadar akan dirinya sendiri untuk melindungi diri sendiri dan juga melindungi bersama, sayangi teman," ujarnya.
Agar suara lebih luas, FORKARE juga menjaring aspirasi lewat angket Google Form dan media sosial. Hasil RBP 2026 ini akan menjadi bahan Suara Anak Purworejo 2027. Rangkaian HAN ke-42 juga diisi upacara 23 Juli, kegiatan sekolah, podcast NYORE bareng FORKARE, dan kolaborasi Podcast Jo Kominfo pasca RBP.
Melalui Rembugan Bocah, Purworejo ingin memastikan pembangunan tidak hanya bicara infrastruktur dan ekonomi, tapi juga ekosistem yang aman, sehat, dan memberi ruang bagi anak tumbuh, bermain, belajar, dan bersuara.(Ags)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....