Kemenag Jateng Berikan Pendampingan Ratusan Eco Pesantren
- 02 Agt 2026 11:05 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah memberikan pendampingan agar terus lahir pesantren-pesantren mandiri yang pengembangan ekonomi sirkular, ramah lingkungan, usaha produktif lewat eco pesantren. Tercatat dari 5.451 pondok pesantren yang ada di provinsi ini, setidaknya sekitar 500 pondok pesantren kini telah menjalankan program eco pesantren tersebut
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, M. Fatkhuronji, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari strategi Kementerian Agama dalam menjadikan pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengembangan ekonomi pesantren dilakukan melalui program pemberdayaan yang melibatkan kantor kementerian agama di kabupaten dan kota.
Lewat program itu, Kementerian Agama mendorong agar pondok pesantren dapat mengembangkan pola agribisnis maupun ekonomi sirkular sesuai karakteristik wilayahnya. Dengan demikian, pesantren dapat membangun kemandirian ekonomi tanpa bergantung pada satu sumber pendanaan.
"Kami berharap seluruh pondok pesantren yang memenuhi syarat dapat mengembangkan pola agribisnis atau literasi ekonomi sirkular sesuai potensi masing-masing," ujar Fatkhuronji.
Sejumlah pesantren di Jawa Tengah telah menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan usaha produktif. Salah satunya adalah pondok pesantren Fadhlul Fadlan Semarang dan Pondok Pesantren Miftahul Huda di Kabupaten Grobogan yang berhasil meraih prestasi tingkat nasional melalui program pesantren entrepreneurship.
Pesantren Miftahul Huda misalnya, berhasil mengembangkan berbagai unit usaha, mulai dari penggemukan kambing, produksi kaligrafi, pembuatan sepatu, sandal, tas, hingga pakaian. Selain itu, mereka juga menyiapkan lahan pertanian dalam skala luas sebagai bagian dari penguatan ekonomi pesantren.
Keberhasilan serupa juga terlihat di sejumlah pesantren di Kabupaten Wonosobo yang fokus pada sektor pertanian. Bahkan, pengembangan usaha yang dilakukan tidak hanya melibatkan santri, tetapi juga masyarakat sekitar sehingga manfaat ekonominya semakin luas.
Fatkhuronji menjelaskan model pertanian dan perikanan memang terbukti efektif memperkuat kemandirian pesantren. Namun, pola tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam karena setiap pesantren memiliki kondisi dan sumber daya yang berbeda.
Karena itu, Kementerian Agama mendorong pesantren untuk mengembangkan usaha sesuai potensi yang dimiliki. Pendekatan tersebut dinilai lebih realistis dan mampu menciptakan model kemandirian yang berkelanjutan.
Untuk memperkuat program tersebut, Kementerian Agama menyiapkan pendampingan melalui para penyuluh agama yang tersebar hingga tingkat kecamatan. Mereka bertugas memberikan edukasi dan pendampingan agar pesantren mampu mengembangkan usaha produktif secara optimal.
"Yang terpenting adalah pesantren mampu membangun kemandirian sesuai potensi yang dimiliki. Kami terus memberikan dukungan dan pendampingan melalui para penyuluh yang ada di daerah," kata Fatkhuronji.
Melalui langkah tersebut, Kementerian Agama berharap jumlah pesantren mandiri di Jawa Tengah terus bertambah dari tahun ke tahun. Keberhasilan ratusan pesantren yang telah lebih dulu berkembang diharapkan menjadi inspirasi bagi pesantren lain untuk memperkuat ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....