Wujud Hijrah, Warga Binaan Lapas Semarang Berbarengan Hapus Tato di Badan

  • 29 Jul 2026 20:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Program hapus tato yang digelar Lapas Kelas I Semarang menjadi langkah bagi warga binaan untuk berhijrah dan memperbaiki diri. Kegiatan yang bekerja sama dengan Lembaga Mualaf Center Indonesia itu diawali dengan tausiyah dan diikuti 58 warga binaan muslim, Rabu, 29 Juli 2026.

Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang bertujuan menanamkan semangat hijrah bagi warga binaan. Menurutnya, perubahan diri harus dimulai dari niat yang kuat untuk meninggalkan hal-hal yang dinilai tidak lagi membawa kebaikan.

"Dari 58 warga binaan, ada sekitar tujuh orang ikut program hapus tato. Hal tersebut mereka lakukan sebagai bentuk komitmen memperbaiki diri," kata Tohari.

Ia menjelaskan, program hapus tato akan dilaksanakan secara bertahap sebanyak lima kali karena proses penghapusannya membutuhkan waktu dan kesabaran. Antusiasme warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut dinilai cukup tinggi.

"Rencana akan dilaksanakan lima kali secara bertahap, karena memang untuk menghapus tato memerlukan kesabaran. Alhamdulillah warga binaan sangat antusias, saya rasa mereka mendapatkan banyak pelajaran di sini," ujarnya.

Salah seorang peserta program, Sudrajat, mengaku telah lama ingin menghapus tato yang ada di tubuhnya. Warga binaan kasus narkotika yang telah menjalani 10 tahun masa hukuman dari total vonis 15 tahun itu mengatakan kesempatan tersebut akhirnya datang melalui program di Lapas Semarang.

"Saya berharap pengin hilang tatonya, cuma enggak ada jalan. Akhirnya di Lapas mengadakan hapus tato, dan saya langsung tergerak untuk ikut,” kata Sudrajat.

Sudrajat menceritakan, dirinya memiliki lima tato yang dibuat sejak berusia 17 tahun akibat pengaruh pergaulan dengan anak-anak jalanan. Seiring bertambahnya usia, ia menyadari tato tersebut kerap menimbulkan stigma negatif sehingga memantapkan diri untuk menghapusnya sebagai bagian dari proses memperbaiki kehidupan.

Selama menjalani pembinaan di Lapas Semarang, Sudrajat juga aktif mengikuti kegiatan pesantren, salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, dan bekerja di unit laundry selama sekitar enam tahun. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut dikirimkan untuk membantu biaya sekolah anaknya.

"Disini saya menyibukkan diri bekerja di unit laundry, sudah kurang lebih enam tahun. Alhamdulillah dapat penghasilan (premi), hasilnya saya kirim ke anak untuk bantu biaya sekolah," ujarnya.

Dengan sisa masa pidana yang tinggal sedikit, Sudrajat berharap proses penghapusan tatonya dapat selesai sebelum kembali ke tengah masyarakat. Ia ingin memulai kehidupan baru dengan bekal pembinaan yang diperoleh selama menjalani masa hukuman dan meninggalkan masa lalu yang pernah dijalaninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....