Forum "Julid Valid", UIN Pekalongan Bekali Netizen Cara Mengkritik dengan Bijak
- 27 Jul 2026 17:44 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Forum Mahasiswa "Julid Valid" Bekali Netizen Cara Mengkritik dengan Bijak
- forum tersebut sengaja dibuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum sebagai ruang belajar menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
RRI.CO.ID, Pekalongan - Budaya saling mengomentari di media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, tidak sedikit kritik yang berujung pada persoalan hukum karena disampaikan tanpa etika dan dasar yang jelas. Fenomena itu diangkat dalam talk show bertajuk "Julid Valid Tips Menjulid yang Valid Anti Terciduk" di Serambi Student Center UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Melalui diskusi yang dikemas santai dan interaktif, peserta diajak memahami bahwa kritik di media sosial tetap harus berbasis fakta, disampaikan secara etis, dan tidak melanggar hukum. Acara menghadirkan tiga tokoh dengan karakter berbeda, yakni Ribut Achwandi sebagai "perusuh", Abu Was-was sebagai "penjulid", dan Nasrudin sebagai "juru damai".
Ketiganya mengupas fenomena "es teh jumbo versus lemon tea" yang dimaknai sebagai simbol relasi antara masyarakat dan para pemangku kebijakan. Simbol tersebut memantik diskusi peserta yang aktif menyampaikan kritik, pendapat, hingga solusi terhadap berbagai fenomena yang berkembang di ruang digital.
Ketua Pelaksana, Alis Kholisoh, mengatakan tema "Julid Valid" dipilih karena dekat dengan kebiasaan masyarakat, terutama netizen yang aktif berkomentar di media sosial. "Karena pengambilan tema Julid Valid ini sebetulnya sangat dekat untuk menarik minat para netizen yang suka berkomentar di era digital seperti sekarang," kata Alis, Minggu, 26 Juli 2026.
Menurutnya, forum tersebut sengaja dibuka bagi mahasiswa maupun masyarakat umum. Forum ini menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
"Di zaman sekarang kan banyak sekali komentar-komentar yang julid dan tidak memakai prinsip saring sebelum sharing. Itu menjadi dasar kami mengadakan forum ini sebagai pengingat bagi netizen Indonesia," ujarnya.
Alis menjelaskan, fenomena es teh jumbo dipilih karena sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga mudah dipahami seluruh peserta. Melalui ilustrasi itu, panitia berharap peserta mampu melihat persoalan di media sosial secara lebih kritis tanpa kehilangan etika dalam menyampaikan pendapat.
Ia menambahkan, konsep tiga karakter, yakni perusuh, penjulid, dan juru damai sengaja dihadirkan. Tujuannya agar peserta dapat melihat satu persoalan dari berbagai sudut pandang.
"Pengangkatan peran perusuh, penjulid, dan juru damai ini supaya tidak ada sekat dalam berdiskusi di forum ini. Semua bisa menyampaikan pendapat dari sudut pandang yang berbeda," jelasnya.
Alis berharap materi yang diperoleh peserta tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diterapkan dalam aktivitas bermedia sosial sehari-hari. "Intinya, saring dulu sebelum sharing," katanya.
Sementara itu, peserta kegiatan, Farida, menilai kegiatan tersebut menjadi ruang yang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, saran, maupun solusi terhadap persoalan yang berkembang. "Kegiatan Julid Valid ini menjadi wadah buat kita untuk mengkritik sesuatu," katanya.
"Mengkritik hal-hal yang mungkin di luar sana tidak aman untuk disampaikan. Di acara ini kita bisa mengkritik, memberi saran, atau solusi dengan lebih aman," ujarnya.
Farida memaknai "es teh jumbo" sebagai representasi masyarakat, sedangkan "lemon tea" menggambarkan para pemangku kebijakan. "Menurutku, es teh jumbo itu menggambarkan rakyat biasa, sedangkan lemon tea menggambarkan para pemangku kebijakan, padahal bedanya cuma sepotong lemon, tapi maknanya bisa lebih luas dari itu," katanya.
Selain memperoleh kesempatan menyampaikan pendapat, Farida mengaku mendapatkan pengalaman baru karena dapat mendengar beragam perspektif dari peserta lain selama diskusi berlangsung. Ia berharap forum serupa lebih sering digelar dengan mengangkat isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan publik sehingga masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kritik secara sehat.
"Semoga sering-sering diadakan acara seperti ini, jadi kalau kita mau julid atau mengkritik ada tempat khusus dan bisa langsung didengar. Kalau bisa, topik-topiknya juga mengikuti fenomena yang sedang ramai," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....