Panggung Seminar Ilmiah Untidar Jadi Ruang Transformasi Seni Budaya Lima Gunung

  • 23 Jul 2026 15:44 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Universitas Negeri Tidar menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk Mountain Ecosystem Conservation Integrating Entrepreneurship and Culture di Gedung Kuliah Umum Suparsono pada Rabu, 22 Juli 2026.
  • Kegiatan ini merupakan penutup rangkaian Dies Natalis ke-47 Untidar yang memadukan pendekatan akademik dengan penampilan seni tradisional dari Komunitas Lima Gunung.
  • Kolaborasi tersebut menciptakan ruang akademik yang lebih dekat dengan masyarakat melalui integrasi sains, budaya, dan kewirausahaan dengan menghadirkan pemateri dari Thailand.

RRI.CO.ID, Magelang – Universitas Negeri Tidar (Untidar) memadukan konferensi internasional dengan pentas budaya Komunitas Lima Gunung sebagai penutup rangkaian Dies Natalis ke-47. Kolaborasi tersebut menjadi upaya menghadirkan ruang akademik yang lebih dekat dengan masyarakat melalui perpaduan sains, budaya, dan kewirausahaan.

Konferensi internasional bertajuk Mountain Ecosystem Conservation Integrating Entrepreneurship and Culture digelar di Gedung Kuliah Umum Suparsono Untidar, Rabu, 22 Juli 2026. Selain menghadirkan pemateri dari Thailand, kegiatan juga dimeriahkan penampilan seni tradisional dari Komunitas Lima Gunung.

Rektor Untidar, Sugiyarto, mengatakan perpaduan forum ilmiah dan pertunjukan seni menjadi pendekatan baru untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, penyampaian ilmu pengetahuan melalui media budaya mampu menarik perhatian publik yang selama ini belum mengenal dunia akademik.

"Pidato ilmiah biasa mungkin memiliki keterbatasan audiens. Namun, ketika sains diintegrasikan dengan pertunjukan seni yang unik, masyarakat luas yang awalnya awam akan menjadi penasaran dan mulai mengenal Untidar," katanya.

Sugiyarto menilai kolaborasi dengan Komunitas Lima Gunung menjadi terobosan dalam menghadirkan metode pembelajaran yang lebih segar dan tidak kaku. Kampus, menurutnya, harus mampu membaur dengan masyarakat agar ilmu pengetahuan memberi manfaat yang lebih luas.

"Ini merupakan simbolis kita membaurkan diri atau dalam semangat budaya Jawa yakni ajur ajer. Edukasi konvensional bukan satu-satunya jalan; melalui pendekatan visual dan seni, pesan pembelajaran justru menjadi sangat membekas," ujarnya.

Ia menambahkan, pertunjukan seni tersebut sejalan dengan pilar pengembangan Untidar yang mengintegrasikan kewirausahaan, kebudayaan, dan inovasi akademik. Melalui kolaborasi itu, kampus juga ingin menyampaikan pesan bahwa keberagaman dapat disatukan dalam harmoni untuk menghasilkan nilai yang lebih besar.

Pegiat Komunitas Lima Gunung, Sih Agung Prasetya, mengatakan kehadiran para seniman merupakan bentuk silaturahmi sekaligus dukungan terhadap peringatan Dies Natalis ke-47 Untidar. Mereka juga membawa semangat kehidupan masyarakat lereng gunung sebagai inspirasi bagi sivitas akademika.

"Gunung juga menyimpan berbagai macam lingkungan seperti yang tergambar dalam tarian yang dipentaskan. Kita mencoba memberikan spirit pegunungan bagi Untidar. Meskipun gerakannya berbeda-beda, tetapi bisa dipadukan dengan gerakan yang dinamis," katanya.

Menurut Sih Agung, pementasan tersebut menjadi pengalaman berharga karena untuk pertama kalinya Komunitas Lima Gunung tampil di Untidar. Ia berharap kolaborasi seni dan akademik itu dapat menjadi ruang saling belajar sekaligus memberikan semangat baru bagi kampus dalam mengembangkan pendidikan yang lebih inklusif dan dekat dengan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....