Jateng-Malaka Siapkan Pertukaran Santri dan Guru Antarpesantren
- 14 Jul 2026 17:15 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Kerja sama antara Jawa Tengah dan Negara Bagian Malaka, Malaysia, kini diperluas hingga menyentuh dunia pesantren. Melalui skema tersebut, santri dan guru dari kedua wilayah berpeluang mengikuti program pertukaran untuk memperkuat jejaring pendidikan dan keilmuan Islam.
Rencana itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menerima kunjungan Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin Malaka, Malaysia, Muhammad Hadi Al Muhibbin, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Jawa Tengah, Senin 13 Juli 2026. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penjajakan kerja sama antarpesantren di Jawa Tengah dan Malaka.
Menurut Taj Yasin, penguatan kolaborasi pendidikan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama sister province antara Jawa Tengah dan Malaka yang telah berjalan sejak 2025. Kerja sama itu diharapkan tidak hanya berhenti pada level pemerintahan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi lembaga pendidikan dan masyarakat.
"Kita nanti pastikan lagi bagaimana kerja samanya antara Malaka dengan Jawa Tengah, terkhusus antara pondok-pondok pesantren di Jawa Tengah dengan salah satu pondok yang ada di Malaka," kata Gus Yasin.
Ia menilai hubungan yang telah terbangun antarpemerintah perlu diperkuat melalui kolaborasi di tingkat pendidikan. Dengan demikian, pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan budaya dapat berlangsung lebih luas melalui lingkungan pesantren.
Program yang dijajaki meliputi pertukaran santri dan guru sebagai sarana memperluas wawasan pendidikan keislaman. Skema tersebut sekaligus menjadi upaya mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia yang selama ini memiliki kedekatan sejarah dan budaya.
"Sementara ini dari ulama-ulama Indonesia dengan Malaysia ada pertukaran santri, pertukaran guru juga," tandasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia pesantren melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren. Program tersebut menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi kalangan pesantren.
Pada 2026, program beasiswa itu mencatatkan 941 pendaftar untuk jenjang S1, S2, dan S3, baik di dalam maupun luar negeri. Peserta yang lolos seleksi program luar negeri akan melanjutkan studi ke sejumlah negara seperti Mesir, Yaman, China, dan Filipina.
Menurut Gus Yasin, minat santri saat ini semakin berkembang dan tidak hanya terfokus pada ilmu-ilmu keislaman. Banyak santri mulai memilih bidang sains, teknologi, hingga kedokteran sebagai bagian dari pengembangan kompetensi mereka.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin Malaka, Muhammad Hadi Al Muhibbin, menyambut positif rencana penguatan kerja sama antarpesantren tersebut. Ia menilai hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki fondasi sejarah yang kuat sehingga layak terus dipererat melalui sektor pendidikan.
Menurutnya, kemitraan yang telah dibangun kedua pemerintah daerah dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kolaborasi di tingkat lembaga pendidikan. Pertukaran pelajar dan penguatan jejaring pesantren dinilai akan memberikan manfaat bagi kedua wilayah.
"Apabila hubungan antara pemerintah sudah terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk melaksanakan pertukaran pelajar antara Indonesia dan Malaysia. Silaturahmi seperti ini menjadi jalan untuk memperkuat hubungan keilmuan kedua wilayah," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....