Musim Kemarau, Perhutani Survei Titik Rawan Kebakaran Hutan di Purwodadi

  • 10 Jul 2026 13:34 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Grobogan — Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melakukan survei potensi titik rawan kebakaran hutan di seluruh wilayah kerjanya menjelang puncak musim kemarau 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran sekaligus menyusun langkah pencegahan yang lebih efektif di kawasan hutan.

Survei yang dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026 tersebut mencakup delapan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) di wilayah KPH Purwodadi. Kegiatan dipimpin Wakil Administratur KPH Purwodadi Henry Kristiawan bersama jajaran Polisi Kehutanan Mobil (Polhutmob), petugas perlindungan hutan, serta melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Selain memetakan lokasi rawan, tim juga melakukan identifikasi kondisi lapangan, mengevaluasi akses menuju kawasan yang berpotensi terjadi kebakaran, serta menginventarisasi sumber daya yang dapat mendukung penanganan apabila terjadi keadaan darurat selama musim kemarau.

Berdasarkan hasil inventarisasi dan pemetaan, terdapat kawasan hutan seluas 2.689,43 hektare yang memiliki potensi rawan kebakaran dari total luas wilayah KPH Purwodadi sebesar 19.636,5 hektare. Kawasan tersebut tersebar di sejumlah petak hutan pada wilayah Kecamatan Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Brati, Klambu, Grobogan, dan Sukolilo.

Tim survei juga mengecek kondisi vegetasi bawah, keberadaan jalur akses, sumber air, serta titik-titik strategis yang dapat dimanfaatkan sebagai jalur mobilisasi personel apabila terjadi kebakaran hutan. Hasil survei akan menjadi dasar penyusunan strategi patroli terpadu, peningkatan frekuensi monitoring, dan penguatan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

Wakil Administratur KPH Purwodadi Henry Kristiawan mengatakan survei lapangan menjadi langkah preventif yang penting untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan yang biasanya meningkat pada musim kemarau. Menurutnya, pencegahan merupakan langkah yang paling efektif dalam penanggulangan kebakaran hutan.

"Melalui survei ini kami dapat memetakan lokasi-lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi sehingga langkah pengamanan dapat dilakukan lebih terarah. Perhutani juga terus meningkatkan patroli terpadu, kesiapan personel, serta memperkuat sinergi bersama LMDH, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat agar ancaman kebakaran dapat dicegah sedini mungkin," ujar Henry.

Menurut Henry, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran. Oleh karena itu, Perhutani terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api.

"Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati selama musim kemarau. Hutan adalah aset bersama yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis. Apabila masyarakat menemukan adanya asap atau indikasi kebakaran di kawasan hutan, segera laporkan kepada petugas Perhutani atau aparat setempat agar dapat segera ditangani sebelum meluas," katanya.

Sementara itu, perwakilan LMDH Godan Wana Lestari, Sutadi, menyatakan masyarakat desa hutan siap mendukung langkah pencegahan kebakaran melalui patroli, penyampaian informasi dini, dan edukasi kepada warga sekitar. "Kelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama karena manfaatnya juga dirasakan langsung oleh masyarakat," ungkap Sutadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....