Pengamat: Pemerataan Mutu Pendidikan Masih Jadi Tantangan dalam SPMB
- 26 Jun 2026 12:03 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pengamat pendidikan Dr. Ngasbun Egar, M.Pd. menilai pendampingan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan menggunakan sistem digital dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) merupakan solusi jangka pendek. Menurutnya, pemerintah tetap perlu menyederhanakan sistem sekaligus meningkatkan literasi digital masyarakat sebagai solusi jangka panjang.
"Pendampingan di sekolah cukup membantu. Dalam jangka panjang, sistemnya perlu disederhanakan dan masyarakat juga harus disiapkan agar mampu menggunakannya," kata Ngasbun saat diwawancarai RRI, Jumat 26 Juni 2026.
Ia mengatakan, kendala dalam pelaksanaan SPMB secara daring tidak hanya berasal dari sistem, tetapi juga dari kemampuan pengguna. Masih banyak orang tua yang belum memiliki literasi digital yang memadai sehingga membutuhkan bantuan saat proses pendaftaran.
Menanggapi imbauan pemerintah daerah agar masyarakat tidak hanya memilih sekolah tertentu karena mutu pendidikan dinilai semakin merata, Ngasbun menilai langkah tersebut dapat menjadi upaya mengurangi penumpukan pendaftar. Namun, menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan kualitas layanan pendidikan antarsekolah masih belum sepenuhnya setara.
"Masyarakat tentu memiliki hak memilih sekolah yang dianggap terbaik bagi anaknya. Sampai sekarang disparitas kualitas layanan pendidikan masih cukup tinggi," katanya.
Ia menambahkan sejumlah sekolah dinilai telah memiliki layanan pendidikan yang lebih baik dibandingkan sekolah lainnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi seluruh sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, baik dari sisi pembelajaran maupun prestasi akademik dan nonakademik peserta didik.
Terkait transparansi SPMB, Ngasbun mengakui sistem digital dapat meningkatkan akuntabilitas proses penerimaan. Meski demikian, ia menilai praktik titip-menitip masih berpotensi terjadi apabila integritas para pelaksana tidak terjaga.
"Sistem bisa saja transparan, tetapi pada akhirnya bergantung kepada orang yang mengelolanya. Transparansi tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh sikap penggunanya," katanya.
Menurutnya, masyarakat juga perlu memiliki kesiapan untuk bersaing secara sehat dan menerima hasil seleksi apabila tidak diterima di sekolah yang menjadi pilihan utama. Orang tua diharapkan mempertimbangkan alternatif sekolah lain yang juga memiliki mutu pendidikan yang baik.
Sebagai masukan bagi pemerintah, Ngasbun berharap pelaksanaan SPMB terus disempurnakan dari tahun ke tahun. Selain memperkuat sistem, pemerintah juga perlu menyeimbangkan kapasitas sekolah dengan jumlah lulusan agar persaingan tidak terlalu tinggi.
Ia juga mengusulkan agar ke depan sistem penerimaan dapat lebih terintegrasi sehingga peserta didik memiliki peluang ditempatkan di sekolah lain yang masih memiliki daya tampung sesuai hasil seleksi. "Yang terpenting adalah semua anak mendapatkan kesempatan bersekolah di lembaga pendidikan yang mutunya terjamin, meskipun tidak selalu di sekolah yang menjadi pilihan utama," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....