Kasus HIV di Kota Semarang Masih Tinggi, DPRD Desak Penguatan Pencegahan
- 22 Jun 2026 10:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - DPRD Kota Semarang mendesak penguatan upaya pencegahan HIV menyusul masih tingginya temuan kasus di Kota Semarang. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus baru HIV, sehingga langkah preventif dinilai perlu semakin diperkuat.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Siti Roika, mengatakan penanganan HIV tidak cukup hanya melalui pengobatan dan deteksi dini. Menurutnya, upaya pencegahan harus menjadi perhatian bersama dengan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah terkait.
"Kemarin saya konfirmasi ke Dinkes, tingginya kasus HIV 40 persen dari pendatang. Enam puluh persennya warga Semarang," kata Roika, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menyebut sebagian pendatang yang terdeteksi mengidap HIV berasal dari kalangan mahasiswa maupun pekerja. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan pola pergaulan dan perilaku berisiko.
Roika menilai langkah preventif yang melibatkan berbagai instansi masih perlu diperkuat. Ia mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB), serta Dinas Kesehatan untuk meningkatkan pembinaan terhadap remaja dan keluarga.
"Sampai saat ini langkah preventif dari beberapa dinas belum terlihat. Pergaulan bebas harus menjadi konsen, basic point-nya ada di keluarga, sehingga pembinaan remaja harus dikuatkan," ujarnya.
Menurut Roika, mitigasi perlu segera dilakukan mengingat jumlah kasus HIV di Kota Semarang masih cukup tinggi. Selain itu, ia juga menerima sejumlah laporan masyarakat terkait aktivitas kelompok berisiko yang perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan penyebaran HIV.
Sementara itu, data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan kelompok dengan proporsi temuan kasus HIV tertinggi berasal dari lelaki seks dengan lelaki (LSL) sebesar 44 persen. Angka tersebut disusul pasien Tuberkulosis (TBC) sebesar 12 persen.
Adapun pasangan risiko tinggi dan populasi umum masing-masing menyumbang 11 persen. Sementara, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) sebesar 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks sebesar 2 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan meningkatnya jumlah temuan kasus HIV tidak terlepas dari semakin masifnya kegiatan skrining dan deteksi dini yang dilakukan petugas kesehatan. "Dinkes Kota Semarang gencar melakukan layanan skrining dan deteksi dini, berupa layanan tes HIV di fasilitas kesehatan maupun kelompok masyarakat yang memiliki risiko," ujarnya.
Menurut Hakam, upaya skrining yang semakin luas bertujuan menemukan kasus lebih dini sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan pendampingan. Langkah tersebut juga menjadi bagian penting dalam menekan penularan HIV di masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....