Ribuan Pelari Serbu Dieng Caldera Race, Perputaran Uang Diperkirakan Rp20 Miliar

  • 21 Jun 2026 17:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Dieng Caldera Race (DCR) 2026 tidak hanya menghadirkan ribuan pelari ke kawasan pegunungan Dieng, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Event sport tourism ini diperkirakan mampu menciptakan perputaran uang lebih dari Rp20 miliar selama penyelenggaraan.

Sebab, ada sekitar 2.000 peserta dari berbagai daerah dan mancanegara yang ambil bagian dalam ajang yang digelar pada 19–21 Juni 2026 tersebut. Tingginya jumlah peserta berdampak langsung pada peningkatan okupansi hotel, konsumsi kuliner, hingga penjualan produk lokal di kawasan Wonosobo dan Dieng.

Direktur Dieng Caldera Race 2026, Ade Hendrik Saputra, mengatakan hampir seluruh penginapan dalam radius sekitar 15 kilometer dari Tambi hingga Dieng penuh selama pelaksanaan event. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan DCR tahun ini.

“Dari sisi penginapan radius sekitar 15 Km dari Tambi sampai Wonosobo maupun ke arah Dieng penuh. Perputarannya mungkin di atas Rp20 miliar dengan adanya Dieng Caldera Race 2026 ini,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menilai DCR merupakan contoh nyata pengembangan sektor pariwisata melalui konsep sport tourism. Menurutnya, olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia berharap para peserta tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga menikmati berbagai destinasi wisata, kuliner, serta produk unggulan daerah. Kehadiran peserta dan pendamping diyakini mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

“Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, trail run ini adalah salah satu pintu kita untuk pengembangan wisata. Olahraga bisa dikaitkan dengan pariwisata, menjadi sport tourism,” kata Sumarno.

Selain memberikan dampak ekonomi, DCR 2026 juga menawarkan tantangan baru bagi para peserta. Tahun ini penyelenggara menghadirkan perubahan lintasan, terutama pada kategori 25K yang untuk pertama kalinya melewati jalur menuju Gunung Sindoro.

Menurut Ade Hendrik Saputra, perubahan rute tersebut menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat kategori 25K menjadi favorit peserta. Jalur baru itu menawarkan tantangan elevasi yang lebih berat sekaligus panorama alam yang lebih spektakuler.

Sumarno yang turut mengikuti kategori 25K merasakan langsung beratnya lintasan menuju puncak Sindoro. Ia berhasil menuntaskan perlombaan dengan catatan waktu 9 jam 25 menit.

“Rutenya berbeda dengan tahun lalu. Hari ini kita naik sampai puncak Sindoro. Cukup menantang, naiknya berat, turunnya lebih berat lagi,” tuturnya.

DCR 2026 juga mencatat peningkatan partisipasi pelari internasional yang signifikan. Tahun ini lebih dari 150 peserta asing ikut ambil bagian, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 44 orang.

Keindahan lanskap Dieng menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta. Hamparan perkebunan, pegunungan, serta destinasi wisata seperti Candi Arjuna dan Telaga Menjer menjadi suguhan yang menemani para pelari sepanjang lintasan.

Peserta asal Madiun, Nadia, mengaku terkesan dengan tantangan rute menuju Sindoro yang menawarkan pengalaman berbeda dibanding tahun sebelumnya. Ia juga memuji kualitas penyelenggaraan yang dinilai semakin baik.

“Ini mantap. Water station lengkap, keren. Yang kali ini karena sampai puncak Sindoro, elevasinya jos banget,” katanya.

Sementara itu, peserta asal Semarang, Binsar Napitupulu, menyebut Dieng Caldera Race sebagai salah satu event trail run paling berkesan di Indonesia. Menurutnya, kombinasi venue, panorama alam, dan udara dingin Dieng menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Ini salah satu acara trail yang mewah. Venue-nya di resort, suasananya juga luar biasa. Dieng dengan suhunya yang dingin membuat pengalaman lari di sini semakin menarik,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....