PMI Kota Semarang Gaungkan Pancasila sebagai Jangkar Nilai Kemanusiaan
- 18 Jun 2026 18:20 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang- PMI Kota Semarang menggaungkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang berakar pada Pancasila sebagai fondasi dalam membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam Talkshow Nasional bertema “Pancasila sebagai Jangkar Nilai Kemanusiaan” yang dirangkaikan dengan Kick Off Bulan Kemanusiaan 2026 di Gedung UDD PMI Kota Semarang, Kamis, 18 Juni 2026.
Ketua PMI Kota Semarang, dr. Awal Prasetyo, mengatakan gerakan kepalangmerahan di Indonesia memiliki landasan yang kuat pada nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, Bulan Kemanusiaan 2026 dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap kelompok rentan, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.
Tahun ini, Bulan Kemanusiaan mengusung tema “Humanity for Elderly and People with Disability” atau kemanusiaan untuk lansia dan penyandang disabilitas. “Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang berakar pada Pancasila, khususnya dalam memberikan perhatian dan pemenuhan hak bagi lansia serta penyandang disabilitas,” kata Awal.
Ia menegaskan, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap lansia dan penyandang disabilitas. Menurutnya, kedua kelompok tersebut harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek belas kasih.
“Kita tidak bisa lagi memperlakukan lansia dan orang dengan disabilitas dalam konsep belas kasih semata. Mereka memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti kita semua,” ujarnya.
Awal menjelaskan, pemenuhan hak lansia dapat diwujudkan melalui penghormatan, akses layanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga kesempatan untuk tetap berkontribusi dalam kehidupan sosial. Ia mencontohkan, banyak lansia di Kota Semarang yang masih aktif mendonorkan darah melalui PMI.
“Masih ada sekitar 1.500 lansia yang aktif menjadi pendonor darah. Bahkan ada pendonor berusia 74 tahun yang telah mendonorkan darah hingga ratusan kali. Ini sesuatu yang luar biasa dan patut diapresiasi,” katanya.
Menurutnya, para pendonor tersebut merupakan pahlawan kemanusiaan karena terus memberikan manfaat bagi sesama melalui darah yang didonorkan. Selain itu, PMI Kota Semarang juga mendorong terwujudnya kesetaraan akses bagi penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari fasilitas publik, pendidikan, hingga kesempatan berusaha.
“Mereka harus mendapatkan hak yang sama seperti yang kita dapatkan. Baik akses ke tempat publik, pendidikan, kesempatan berusaha, maupun peluang lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyandang disabilitas yang memenuhi persyaratan kesehatan juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pendonor darah. “Yang dibutuhkan pasien adalah darah yang sehat, bukan melihat keterbatasan fisik seseorang, penyandang disabilitas yang memenuhi syarat tetap dapat berbagi kepada sesama melalui donor darah,” katanya.
Talkshow nasional tersebut menghadirkan Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. Adnas, M.Si. sebagai keynote speaker, bersama sejumlah narasumber lainnya. Ada Sekretaris DPP KBM Jawa Tengah, dr. Agung Sudarmanto, M.M., pendiri The School of Life Foundation Priskilla Smith Jully, serta Kepala Kejaksaan Negeri Kota Semarang Andhie Fajar Arianto, S.H., M.H. yang menjabat sebagai Ketua Umum Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang 2026.
Dalam paparannya, Adnas menegaskan,Pancasila merupakan karya besar bangsa Indonesia yang mengandung nilai moral dan kemanusiaan yang sangat mendalam. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus tetap menjadi akar sekaligus jangkar agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah di tengah berbagai perubahan zaman.
“Pancasila adalah tempat bersandar agar bangsa ini tidak hanyut oleh perubahan zaman. Nilai-nilainya harus tertanam kuat dalam diri setiap anak bangsa,” katanya.
Ia menambahkan, esensi kemanusiaan dalam Pancasila adalah memanusiakan manusia atau dalam filosofi Jawa dikenal dengan istilah nguwongke uwong. Setiap warga negara berhak hidup sehat, bahagia, bebas dari diskriminasi, serta memperoleh hak-haknya tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang sosialnya.
“Penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama, negara telah hadir melalui berbagai kebijakan dan fasilitas. Namun yang tidak kalah penting adalah kehadiran kita semua untuk menjaga, mendukung, dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan itu dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....