Modus Makin Sulit Dideteksi, Narkoba Kini Sasar Generasi Muda Lewat Dunia Digital

  • 22 Mei 2026 15:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Perkembangan teknologi digital kini turut dimanfaatkan sindikat narkoba untuk menyasar generasi muda, termasuk mahasiswa. Transaksi elektronik, media sosial, hingga ruang digital tersembunyi menjadi modus baru peredaran narkotika yang dinilai semakin sulit dideteksi dan mengancam lingkungan pendidikan.

Ancaman tersebut menjadi sorotan dalam Dialog Kebangsaan Konsolidasi Nasional Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SEMA-PTKIN) se-Indonesia Tahun 2026 di Semarang, Rabu, 20 Mei 2026. Forum yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai daerah itu mengangkat tema Peran Mahasiswa dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba demi Mewujudkan Generasi Muda yang Sehat, Kritis, dan Berintegritas.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Tengah, Toton Rasyid mengatakan Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius penyalahgunaan narkoba yang menyasar kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa dan lingkungan kampus. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dimanfaatkan sindikat untuk memperluas jaringan melalui pola transaksi modern.

“Mahasiswa jangan sampai hanya menjadi penonton dalam perang melawan narkoba. Modusnya semakin modern, memanfaatkan media digital, transaksi elektronik, bahkan menyasar pola pikir generasi muda melalui gaya hidup dan pergaulan,” ujarnya.

Ia menilai bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dapat berubah menjadi ancaman apabila generasi muda gagal dijaga dari bahaya narkotika. Oleh karena itu, mahasiswa dinilai memiliki posisi penting sebagai agen perubahan di lingkungan pendidikan.

Menurut Toton, kampus harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif bagi lahirnya generasi intelektual dan calon pemimpin bangsa. Mahasiswa diharapkan aktif membangun kesadaran kolektif sekaligus menggerakkan kampanye sosial anti narkoba di lingkungan masing-masing.

“Kita tidak boleh kalah dengan sindikat narkoba yang bergerak sangat cepat dan massif, perang melawan narkoba membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah, kampus, organisasi mahasiswa, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama. Jika generasi muda rusak, maka masa depan Indonesia juga ikut terancam,” katanya.

Ketua Panitia, M. Iqbal Mujahid, mengatakan dialog kebangsaan tersebut tidak sekadar forum diskusi. Akan tetapi menjadi momentum konsolidasi nasional mahasiswa PTKIN dalam membangun gerakan kampus bersih narkoba secara berkelanjutan.

“Kami ingin kegiatan ini melahirkan kesadaran bahwa perang melawan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Mahasiswa tidak boleh apatis terhadap persoalan sosial yang mengancam masa depan bangsa. Justru mahasiswa harus hadir menjadi pelopor perubahan, penggerak edukasi, sekaligus penjaga moral di tengah tantangan zaman,” ujar mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UIN Walisongo itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....